
Rembang – Biaya pengobatan siswa yang mengalami dugaan keracunan makan bergizi gratis (MBG) di Kabupaten Rembang, ditanggung secara mandiri.
Sejauh ini belum ada pihak Badan Gizi Nasional (BGN), termasuk dari dapur SPPG yang menyalurkan MBG, menanggung biaya berobat maupun perawatan pasien.
Kusno, salah satu orang tua murid SMP N 5 Rembang mengatakan anaknya saat pulang sekolah di hari Selasa lalu itu (04/08), sudah langsung muntah-muntah.
Ia kemudian membawanya berobat ke dokter pada sore hari. Setelah pulang rumah, masih muntah-muntah. Selang dua hari, dibawa ke dokter lagi. Untuk kondisi per hari Senin ini (10 Agustus 2026), sudah membaik dan bisa masuk sekolah.
“Jadi anak saya berobat ke dokter dua kali. Kami rawat di rumah, nggak sampai masuk rumah sakit. Hari Senin ini sudah masuk sekolah, tadi saya antar mas,” tuturnya.
Kusno menambahkan semua biaya berobat ditanggung sendiri.
“Kalau soal biaya, riil dari uang pribadi saya,” imbuh Kusno.
Kusno berharap kepada pemerintah mengevaluasi total program MBG. Lebih baik anggaran MBG diserahkan kepada sekolah.
Selain untuk meminimalkan praktik korupsi dan mudah dikontrol, dengan pengelolaan oleh sekolah masing-masing, diharapkan kualitas makanan akan lebih baik.
“Soalnya kalau masak di dapur SPPG yang menangani banyak sekolah, masaknya kan dini hari, waktu dimakan takutnya sudah nggak higiene lagi. Ini yang kita khawatir rawan memicu keracunan,” bebernya.
Alternatif lain, uang MBG diserahkan langsung ke siswa, sehingga bisa meringankan beban orang tua dan siswa dapat flesksibel memilih menu di kantin sekolah.
“Kalau nggak dikelola sekolah, ya mending dikasihkan langsung ke siswanya,” kata Kusno.
Kasi Informasi RSUD dr. R. Soetrasno Rembang, M. Nur Achdi Yustanto membenarkan terkait pembiayaan atau administrasi selama perawatan pasien dugaan keracunan, ada yang menggunakan BPJS masing-masing dan ada yang mendaftar dengan biaya sendiri.
“Tentang pembiayaan, ada yang pakai BPJS, ada yang mendaftar dengan biaya sendiri,” ujar Nur Achdi.
Sebelumnya, di RSUD Rembang terdapat 16 pasien rawat inap dugaan keracunan MBG, sedangkan di RS Bhina Bhakti Husada ada 4 pasien rawat inap, berasal dari siswa SMP N 5 Rembang, SD Annawawiyah, guru, termasuk keluarga siswa dan keluarga guru.
Sebagian dari mereka sudah boleh pulang.
Sementara itu, pada hari Senin (10/08), tercatat masih ada 37 anak di SMP N 5 Rembang yang tidak masuk sekolah, karena pemulihan kondisi. Jumlah tersebut berangsur-angsur menurun, jika dibandingkan pekan lalu. (Musyafa Musa).

