Siapa Sebenarnya Sosok Ini, Sang Orator Demo Di DPRD Rembang
Eko Yulianto (dalam lingkaran), sosok orator dalam aksi demo di gedung DPRD Rembang.
Eko Yulianto (dalam lingkaran), sosok orator dalam aksi demo di gedung DPRD Rembang.

Rembang – Saat aksi demo di depan DPRD dan Kantor Bupati Rembang, Senin (28/09), ada seorang pria yang tidak lelah melakukan orasi, menyuarakan tuntutan.

Ia juga menggerakkan massa Forum Rakyat Rembang Bersatu (Forbes) untuk menerobos barikade polisi, bahkan sempat terlibat ketegangan dengan Wakil Ketua DPRD Rembang, Gunasih.

Sebenarnya siapa sosok pria bertubuh gempal tersebut ??

Yah..namanya Eko Yulianto. Pria berusia 38 tahun ini asli Winong Kabupaten Pati.

Namun ia tinggal di Desa Ronggomulyo Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang, karena beristeri dengan wanita di kampung itu. Eko tercatat sebagai Sekretaris Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Sumber.

Saat wawancara dengan Radio R2B, Selasa siang (29 September 2026), Eko mengaku baru pertama kali mengawal orasi demo.

“Baru pertama kemarin mas. Sebelumnya nggak pernah,” kata Eko.

Ia menegaskan tidak ada kelompok manapun yang mendorong pihaknya menggelar demo.

Eko menyebut semata-mata karena sebagai bentuk kepedulian warga, terhadap kondisi Kabupaten Rembang, agar tata kelola pemerintahan semakin baik.

“Kita melihat di Rembang kok banyak permasalahan. Mulai dari seleksi kepala dinas yang gagal, kemudian dugaan pemalsuan tanda tangan Sekda di dokumen KUA-PPAS, ini ada apa. Di tata kelola pemerintahan, slogannya Harmonis, kenapa hubungan antar pejabat kok kesannya nggak harmonis. Nggak ada yang mendorong-dorong kita mas, murni kita ingin masalah segera clear,” tuturnya.

Eko menambahkan demo hari Senin, massa menyoroti tentang gagalnya seleksi kepala dinas, dugaan pemalsuan tanda tangan Sekda dan penyimpangan tambahan penghasilan pegawai (TPP) Rp 2 Miliar di instansi Dindikpora Kabupaten Rembang. (Pencairan TPP tahun 2025_Red).

Menurutnya, massa belum mendapatkan kejelasan informasi yang memuaskan.

Forum pada hari Selasa (29/09) sudah berkirim surat kepada DPRD Rembang meminta audiensi, berharap membuat forum terbuka, untuk menyampaikan semuanya secara gamblang, dengan menghadirkan semua pihak.

“Kita ingin semuanya jelas, ini masih simpang siur, saling lempar. Anggaran seleksi kepala dinas pakai APBD, gagal, sudah begitu saja. Kan harus dipertanggungjawabkan. Termasuk dugaan pemalsuan tanda tangan, semua pihak terkait dihadirkan, biar masalah ini selesai, tidak melebar kemana-mana,” imbuh Eko.

Saat ditanya apakah keberanian massa pendemo di Rembang, termotivasi oleh aksi massa di Kabupaten Pati, Eko menanggapi ia sendiri berkawan dekat dengan Supriyono alias Bothok, aktivis di Pati.

Bahkan ketika demo di DPRD Rembang Senin kemarin, Bothok sebenarnya juga berminat ingin hadir. Namun Eko menyarankan untuk sementara jangan dulu.

“Biar dikawal rekan-rekan Forbes di Rembang dulu mas, saya jawabi gitu sama mas Bothok. Yang penting kesadaran warga di sini, untuk ikut mengontrol jalannya pemerintahan sudah tumbuh,” pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.