Lewati Cerita Kelam Mirip Sinetron, Teguh Akhirnya Diselamatkan Serka Suyuthi
Serka Suyuthi menangis saat menceritakan pengalamannya menolong Teguh Ahmad Bahari.
Serka Suyuthi menangis saat menceritakan pengalamannya menolong Teguh Ahmad Bahari.

Lasem – Seorang anggota TNI di Rembang, Jawa Tengah menyelamatkan nyawa seorang remaja terlantar. Peristiwa ini membuat saya penasaran untuk menggali, bagaimana rentetan kisahnya.

Yah..anggota TNI tersebut adalah Serka Suyuthi (43 tahun), sehari-hari berdinas di Koramil Lasem, Rembang. Sedangkan anak yang ia selamatkan, Teguh Ahmad Bahari, berusia 17 tahun, asli Garut – Jawa Barat. Semula antara keduanya, sama sekali tidak saling mengenal.

Serka Suyuthi menceritakan bulan Oktober 2021 seusai ngantor di Koramil, akan membeli BBM di SPBU pinggir jalur Pantura Desa Tasiksono, Lasem. Perhatiannya tertuju kepada seorang anak berjalan kaki membawa tas dan plastik kresek, di bawah terik sinar matahari.

“Jadi saya tahunya pertama kali dari pinggir jalan Patihan, Lasem mas, “ ungkapnya.

Saat mencoba bertanya, anak itu menjawab akan ziarah ke makam Sunan Bonang di Desa Bonang, Lasem. Suyuti kemudian mengantarnya. Dari obrolan singkat, diketahui bahwa anak ini bernama Teguh Ahmad Bahari, semula mondok di Jember, Jawa Timur.

Ia pulang ke kampung halamannya di Garut, Jawa Barat, karena seluruh anggota keluarganya meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas.

Tak punya siapa-siapa lagi, Teguh kemudian menyusuri jalur Pantura, dengan tujuan Jember, Jawa Timur, ingin mondok lagi sekaligus bertandang ke rumah pamannya. Saat masih berada di Bonang, Serka Suyuti memberikan bekal uang dan nomor WA nya kepada Teguh. Ia meminta dikabari, jika Teguh membutuhkan pertolongan.

“Tak kasih bekal buat beli makan. Saya bilang gini kalau ada apa-apa, hubungi nomor WA saya, “ imbuh Suyuthi.

Singkat cerita setelah dari Jember, Teguh mengabarkan bahwa sang paman sudah tidak sanggup membiayai pendidikan di pondoknya. Ia akhirnya keluar Jember, kalau malam tidur di sembarang tempat. Terakhir, Teguh tidur di Pendopo Tejokusuman, belakang Masjid Jami’ Lasem.

Mendengar informasi Teguh berada di Lasem, Serka Suyuthi datang menemui. Dari situ ia menawarkan bagaimana kalau Teguh mondok di RN ASA Desa Dadapan, Sedan, sebuah pondok yang juga mengelola destinasi wisata Pagar Pelangi.

Teguh mau dan kebetulan pengasuh pondok pesantren siap menerima yang bersangkutan.

“Saya kenal dengan pengasuh pondok pak Abadi, karena sama-sama lulusan sekolah di Sedan dulu, “ bebernya.

Cobaan yang dialami Teguh tak berhenti sampai di situ. 3 Minggu berada di Pondok Dadapan, tiba-tiba ia jatuh pingsan. Bahkan dikira sudah meninggal dunia, karena sampai berjam-jam. Sempat dibawa ke Puskesmas Lasem, langsung dirujuk menuju RSUD dr. R Soetrasno Rembang. Hasil diagnosa dokter, Teguh mengalami usus buntu dan harus menjalani operasi.

Kala itu, Serka Suyuthi tanpa berpikir panjang siap bertanggung jawab, meski biaya operasi tergolong mahal. Semata-mata karena rasa belas kasihan melihat penderitaan Teguh, menghadapi situasi antara hidup dan mati.

“Petugas di bagian pendaftaran ya tanya, saya jawab saya bukan siapa-siapanya. Tapi ini biaya operasi mahal lho pak, saya sampaikan saja, udah yang penting anak ini bisa tertolong, “ kenang Suyuthi.

Pasca operasi, Teguh menjalani perawatan selama 6 hari di rumah sakit. Pagi siang malam, Serka Suyuthi merawat dan memandikan Teguh, layaknya seperti anak sendiri.

Tanpa ia sangka, ternyata Komandan Kodim Rembang Letkol Donan Wahyu Sejati dan Ketua DPC PPP, Gus Umam turut datang menjenguk.

Setelah itu, ia menerima kabar melalui telefon dari pihak rumah sakit, menyampaikan bahwa seluruh biaya perawatan Teguh akan ditanggung pemerintah. Sontak dirinya merasa terharu dan menangis, upayanya telah memberikan manfaat, menyelamatkan nyawa seorang anak.

“Saya makasih sekali, saya menolong anak ini juga atas dasar kemanusiaan. Nggak ada maksud apa-apa, karena sudah menjadi kebiasaan, kalau di jalan ada orang jualan, saya tanya, kalau mau tak boncengin, “ ungkapnya.

Kini Teguh Ahmad Bahari sudah kembali ke pondok RN ASA Dadapan. Serka Suyuti yang tinggal berjarak sekira 10 an kilo meter dari pondok, tepatnya di Desa Pandan, Kecamatan Pancur, Rembang ini masih rutin datang menjemput Teguh, untuk kontrol seminggu sekali.

Disamping itu, dua hari sekali, ia bersama sang isteri datang, guna membantu mengganti perban bekas operasi. Kebetulan keluarganya sangat mendukung, atas sikapnya membantu Teguh.

“Saya dan isteri punya basic jadi perawat, tiap dua hari sekali mengganti perban. Mertua saya juga mendukung semua, jadi saya betul-betul nyaman untuk menolong Teguh. Nggak ada kendala apapun, “ pungkasnya.

Serka Suyuthi hanya berharap Teguh Ahmad Bahari bisa tumbuh berkembang menjadi anak yang soleh dan bermanfaat bagi orang lain. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *