MBG Pengaruhi Kenaikan Inflasi Di Kabupaten Rembang, Ini Komoditas Yang Paling Memberi Andil
Kepala BPS Kab. Rembang, Jubaedi, saat melakukan paparan tentang inflasi, Senin (03/11).
Kepala BPS Kab. Rembang, Jubaedi, saat melakukan paparan tentang inflasi, Senin (03/11).

Rembang – Permintaan pasar terhadap telur ayam ras terus mengalami peningkatan, imbas dari bergulirnya program makan bergizi gratis (MBG). Hal tersebut berdampak terhadap naiknya inflasi di Kabupaten Rembang, pada bulan Oktober.

Selain itu, harga emas dan logam mulia dunia yang kian tinggi serta kenaikan harga cabai merah akibat panen yang belum optimal, juga turut andil dalam pertumbuhan inflasi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Rembang, Jubaedi, dalam pers release Senin (03/11), membeberkan inflasi bulan ke bulan (month-to-mont) Kabupaten Rembang pada bulan Oktober sebesar 0,45 %. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi provinsi yang hanya 0,40 %.

Sementara inflasi nasional jauh lebih rendah yaitu 0,28 %.

“Ini tentu bisa dijadikan acuan Pemkab Rembang dan para pelaku usaha dalam menjaga kestabilan harga. Kami pasti akan terus mengawal,” ungkapnya saat melakukan paparan di Aula Kantor BPS.

Data BPS juga menunjukkan, inflasi tahun kalender (year-to-date) Kabupaten Rembang sebesar 2,01 %, sedangkan inflasi tahunan (year-to-year) mencapai 2,96 %.

Jubaedi menambahkan, komoditas yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap kenaikan inflasi diantaranya, emas dan logam mulia dengan andil 0,13 %, telur ayam ras 0,11 %, cabai merah 0,10 % serta daging ayam ras 0,03 %.

“Dari sisi kelompok pengeluaran, sektor makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi, yakni 0,32 %. Diikuti perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,13 %. Kemudian Kesehatan, rekreasi, olahraga dan budaya yang turut memberi andil meski kecil,” imbuh Jubaedi.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Rembang, Mardi, yang hadir dalam kesempatan tersebut, menyatakan pengendalian inflasi di Kabupaten Rembang memerlukan sinergitas semua pihak, mulai dari pemerintah, swasta maupun masyarakat.

“Saya mohon semua pihak bisa melaksanakan tugas dan fungsinya masing-masing untuk menurunkan angka inflasi. Terutama komoditas kebutuhan pokok, seperti telur, cabai merah, dan beras yang harganya cenderung meningkat,” ungkapnya.

Berdasarkan data, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kabupaten Rembang naik dari 112,15 pada September menjadi 112,65 pada Oktober 2025.

Hal tersebut menjadi bukti bahwa ada kenaikan harga secara umum. (Wahyu Adi).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.