Kain Luwur Mbah Sambu Dan Mbah Srimpet Dilelang, Inilah Sosok Pemenangnya (Haul Tahun 2026)
Masjid Lasem dipenuhi para Jemaah, mengikuti Haul Mbah Sambu, Mbah Srimpet dan Masyayikh Lasem, Minggu sore (31/05).
Masjid Lasem dipenuhi para Jemaah, mengikuti Haul Mbah Sambu, Mbah Srimpet dan Masyayikh Lasem, Minggu sore (31/05).

Lasem – Ribuan jemaah memadati Haul Mbah Sambu, Mbah Srimpet Dan Masyayikh Lasem, di Masjid Jami’ Lasem, Minggu sore (31 Mei 2026).

KH. Fathurrohman Alfa dari Sarang saat mengisi tausiyah mengungkapkan bahwa sosok Mbah Sambu dan Mbah Srimpet adalah ulama yang bisa menjadi panutan, karena memiliki kapasitas keilmuan.

“Kapasitas ulama yang ulul albab (berakal cerdas), ulama yang cendekiawan, yang bener-bener bersih. Bahkan lebih dari itu, semoga kita semua bisa meneladani,” terangnya.

Haul kali ini diawali dengan penggantian kain luwur (penutup nisan) makam Mbah Sambu dan Mbah Srimpet pada hari Jum’at (29/05), kemudian dilanjutkan karnaval dan khitan massal di hari Sabtu (30/05).

Puncaknya, hari Minggu (31/05), berlangsung tahlil di makam Mbah Srimpet, Khatmil Qur’an, tahlil di makam Mbah Sambu dan ditutup dengan pengajian.

Kain luwur makam Mbah Sambu dan Mbah Srimpet, sebelumnya selesai dilelang. Lelang dimenangkan oleh H. Muhammadun, pemilik toko Duta Anugerah Ilahi Lasem, dengan nilai Rp 3,5 Juta.

Koordinator publikasi haul, Abdullah Hamid menjelaskan uang lelang kain luwur, masuk kas Masjid Jami’ Lasem.

“Kita tidak melihat besar kecilnya. Tapi ini sebagai bentuk kepedulian, keikhlasan, dalam rangka nguri-uri (melestarikan). Semoga apa yang dilakukan, memberikan manfaat. H. Muhammadun tahun lalu juga menjadi pemenang lelang kain luwur,” tandasnya.

Jika menilik riwayat sejarah, Mbah Sambu sendiri adalah putra Pangeran Benowo atau cucu dari Raja Kerajaan Pajang, Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir).

Mbah Sambu sempat mengaji di Ampel. Ia datang ke Lasem, karena Mbah Srimpet (Adipati Lasem Tedjakusuma I), membutuhkan pengajar agama Islam, hingga akhirnya Mbah Sambu menjadi menantu Mbah Srimpet.

Mbah Sambu dan Mbah Srimpet pula yang berjasa mendirikan Masjid Jami’ Lasem. Makam beliau berdua berada di kawasan Masjid Jami’ Lasem. Mbah Sambu wafat pada tahun 1671 Masehi atau 355 tahun silam.

Dari Mbah Sambu, lahir tokoh-tokoh ulama besar di Indonesia, seperti pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari, kemudian menurunkan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), serta beberapa ulama besar lainnya. (Musyafa Musa)

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.