Keajaiban Di Tanah Bitingan, Pohon Kurma Berbuah Lebat
Pohon kurma terletak di samping rumah Sutawi, warga Desa Bitingan Kecamatan Sale.
Pohon kurma terletak di samping rumah Sutawi, warga Desa Bitingan Kecamatan Sale.

Sale – Sebuah pohon kurma berbuah sangat lebat di pekarangan rumah warga Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Kejadian ini termasuk langka, apalagi pohon tersebut berada di puncak pegunungan. Belakangan warga mulai ramai berdatangan. Untuk apa ? simak dalam liputan berikut ini.

Pohon kurma ini berada di samping rumah Sutawi (64 tahun), warga Desa Bitingan Kecamatan Sale Kabupaten Rembang. Jenisnya adalah kurma muda. Meski tingginya baru sekira 3 Meter, namun buahnya sangat banyak.

Yang menarik, Sutawi merasa tidak pernah menanam. Tapi satu-satunya pohon kurma tersebut tumbuh dengan sendirinya dan baru berbuah lebat pada tahun 2024 ini.

Bahkan awalnya Sutawi sempat mengira bahwa pohon itu adalah pohon salak, karena di Kabupaten Rembang sendiri sangat jarang ada pohon kurma.

“Ada thukulan, orang Tegaldowo yang ke sini bilang itu kurma, saya jawab itu salak. Eh ternyata betul, pohon kurma,” ujarnya.

Sutawi menambahkan sering warga dari luar desa yang belum punya anak datang ke rumahnya, ingin meminta buah kurma muda.

Mereka percaya kurma muda efektif untuk meningkatkan kesuburan kandungan perempuan.

“Dua tahun berbuah, tahun lalu hanya 1 janjang, yang sekarang banyak sekali. Nggak umum kalau di sini, langka. Orang yang membutuhkan ke sini, bilangnya pengin hamil. Warga Blora, orang Jawa Timur sudah ke sini,” imbuh Sutawi.

Tertarik Mengembangkan

Tumbuhnya pohon kurma dan berbuah banyak di Desa Bitingan Kecamatan Sale, memicu keheranan.

Alasannya, pohon kurma identik dengan cuaca panas dan tanah berpasir seperti di Arab Saudi. Padahal di Desa Bitingan berada di puncak pegunungan yang berhawa sejuk, dengan kontur tanah cocok untuk tanaman berhawa dingin, seperti durian dan alpukat.

Adi Priyanto, seorang perangkat desa Bitingan menyebut kurma berbuah di kampungnya sebagai keajaiban.

“Kalau musim dingin, kabut tebal di sini. Langka kalau ada kayak gini (kurma),” kata Adi.

Setelah peristiwa ini, warga sebenarnya tertarik ingin membudidayakan kurma. Namun mereka masih ragu, karena belum tahu perawatan dan bagaimana prospek pemasaran kedepan.

“Tertarik sich tertarik, tapi kita masih bingung perawatannya seperti apa, kemudian kalau berbuah pemasarannya bagaimana. Pak Sutawi saya tanya, katanya coba-coba melakukan pembibitan, beberapa biji didhedher, mau ditanam,” bebernya.

Kurma muda milik Sutawi rasanya agak sepet bercampur sedikit manis. Tapi jika sudah tua, rasa manisnya lebih dominan.

Sang pemilik tidak berniat menjual buah kurma. Tapi ketika ada warga datang meminta, langsung dipersilahkan untuk mengambil. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.