“Kalau Sudah Seperti Ini, Sangat Susah Ditangani. Butuh Biaya Besar…”
Perahu nelayan melintas di tanggul bibir pantai yang jebol, dekat muara sungai Tunggulsari, Kecamatan Kaliori. (Foto atas) Sekdes Tunggulsari, Kusen menunjukkan lokasi, Kamis (05/08).
Perahu nelayan melintas di tanggul bibir pantai yang jebol, dekat muara sungai Tunggulsari, Kecamatan Kaliori. (Foto atas) Sekdes Tunggulsari, Kusen menunjukkan lokasi, Kamis (05/08).

Kaliori – Tanggul tanah sepanjang 100 an Meter di pinggir pantai Desa Tunggulsari, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang jebol, karena hantaman ombak besar.

Posisi tanggul tersebut berada persis di sebelah timur muara sungai Tunggulsari, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pati.

Sekretaris Desa Tunggulsari, Kusen, Kamis siang (05 Agustus 2021) menuturkan setelah tanggul jebol, mengakibatkan lahan tambak warga rusak. Dengan kondisi parah seperti ini, penanganan menjadi sulit, lantaran butuh alat berat dan biaya lumayan besar.

“Kalau sudah faktor alam seperti ini, penanganannya sangat sulit. Kembali lagi ke modal (anggaran-Red). Jadi tanggul jebol belum bisa ditutup, “ ungkapnya.

Kusen menambahkan para petambak di sekitar lokasi sudah memasang anyaman bambu atau gedek, guna mencegah kerusakan semakin meluas, terutama jika ombak besar datang lagi.

“Bisa mas lihat di tanggul-tanggul tambak itu, berjejer dipasangi anyaman bambu, kemudian di dekatnya juga ditanami bakau. Ini sebagai bentuk pencegahan saja, “ imbuh Kusen.

Sementara itu, Kepala Desa Tunggulsari, Sri Endang Mindarsih membenarkan keberadaan hutan bakau di kampungnya seluas 10 an hektar terbukti manjur, untuk menangkal abrasi.

“Kalau nggak ada bakau, mungkin malah jauh lebih parah, “ ujarnya.

Tak sekedar untuk penahan ombak, pihak desa sebenarnya juga sudah punya program pemberdayaan kedepan, untuk dioptimalkan menjadi destinasi wisata.

“Misalnya ada perahu dari muara sungai menuju ke lokasi hutan bakau, digabung dengan kuliner khas nelayan. Ibu-ibu di sini juga tertarik memanfaatkan buah bakau, kemudian diolah untuk makanan dan minuman, “ terang Sri Endang.

Namun karena kendala pandemi Covid-19, seiring banyaknya pengalihan  anggaran, wacana tersebut belum serius digarap. Termasuk kerusakan akibat abrasi, juga belum bisa diatasi. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *