Hati-Hati, Jangan Cari Pakan Ternak Di Pagi Hari!! Ternyata Ini Alasannya
Pelatihan Membuat pakan ternak Silase yang digelar oleh mahasiswa Prodi Ketahanan Nasional Sekolah Pasca Sarjana UGM.
Pelatihan Membuat pakan ternak Silase yang digelar oleh mahasiswa Prodi Ketahanan Nasional Sekolah Pasca Sarjana UGM.

Bulu – Mencari rumput untuk pakan ternak pada pagi hari dikala matahari baru terbit, dianggap rawan mengakibatkan gangguan sistem pencernaan ternak.

Hamzah Nata Siswara, menyampaikan hal itu ketika mengisi pelatihan virtual pembuatan pakan ternak yang digelar dalam rangka program pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa program studi ketahanan nasional sekolah pasca sarjana Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta di Desa Kadiwono, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang, Selasa (03/08).

Pelatihan tersebut diikuti warga Desa Kadiwono, kelompok tani dan perwakilan sekolah SMA sederajat se Kabupaten Rembang.

Hamzah yang merupakan dosen Politeknik Pertanian Dan Peternakan Tuban ini mengungkapkan biasanya warga sebelum berangkat ke sawah, menyempatkan waktu merumput dulu. Padahal saat matahari belum begitu tinggi, di permukaan rumput masih terdapat cacing atau telur cacing. Begitu rumput langsung diberikan kepada ternak, maka rawan memicu gangguan metabolisme.

“Ini sering terjadi pada peternakan rakyat, karena buru-buru mau ke sawah, merumput dulu, tanpa nunggu waktu yang tepat. Akibatnya sapi bisa mencret. Nah..makanya kita berlatih fermentasi rumput, karena dapat mematikan telur-telur cacing pada rumput, “ terangnya.

Dalam pelatihan kali ini, Hamzah memaparkan cara membuat pakan ternak fermentasi, Silase.

Umumnya Silase berbahan baku rumput, tebon batang jagung dan pucuk daun tebu. Ketika musim penghujan tiba, di berbagai daerah mengalami surplus pakan ternak. Dengan cara mengawetkan, diharapkan bisa untuk persediaan pakan ternak selama musim kemarau.

“Hijauan di musim penghujan kan melimpah, jadi bisa digunakan dan diolah, “ kata Hamzah.

Hamzah menekankan bahwa fermentasi bertujuan untuk mengawetkan, karena di pakan hijauan terdapat bakteri asam laktat berbentuk plantarum yang akan membantu proses fermentasi.

“Pakai fermentasi an aerob, artinya di sini tidak menggunakan oksigen dalam proses pengolahan. Justru oksigen jangan sampai masuk ke dalam wadah, “ imbuhnya.

Peralatan yang digunakan meliputi drum plastik kedap udara, atau karung yang dilapisi plastik kedap udara, timbangan, plastik lebar dan tebal guna menutup drum, karet ban untuk menali tutup plastik, chopper atau alat pencacah, botol air mineral 1,5 liter yang dilubangi tutupnya selebar paku besar.

Untuk proses pembuatan Silase, dimulai dengan pencacahan hijauan 3 – 5 centi meter. Taburkan dedak di bagian dasar drum setebal 2 cm, masukkan rumput yang sudah dicacah lalu tekan sampai padat, dengan cara diinjak setebal 20 cm, taburkan kembali dedak di permukaan rumput tipis-tipis saja.

Tuangkan EM4 di atas taburan dedak secara merata dengan botol yang dilubangi tutupnya. Setelah itu, ulangi 3 tahap sebelumnya sampai tong penuh dan tumpukan rumput sedikit di atas permukaan drum, lalu tutup rapat dengan plastik dan ditarik kuat.

Simpan selama 1 – 2 Minggu di tempat yang terhindar dari sinar matahari langsung dan hujan. Silase yang sudah jadi bisa digunakan untuk cadangan pakan. Selama tutup belum dibuka, akan mampu bertahan hingga 6 bulan atau lebih, tergantung kerapatan wadahnya.

Hamzah menimpali pakan ternak menjadi sesuatu yang penting, karena keberhasilan usaha peternakan 60 – 70 % ditentukan dari jenis pakannya.

Menurutnya, peternak perlu lebih mengikuti perkembangan pembuatan pakan secara mandiri, tanpa melulu menggantungkan bantuan pemerintah.

“Pengalaman saya kalau membina kelompok yang semangat ketika mendapatkan pelatihan tanpa menunggu bantuan pemerintah, justru mereka lebih berdaya dan menjaga eksistensi kedepan, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *