
Rembang – Warga sekitar pabrik sepatu di jalur Rembang – Clangapan – Pamotan, mendesak Pemkab Rembang dan pihak pabrik mencarikan solusi, atas kesemrawutan lalu lintas, terutama pada jam pagi dan sore hari.
Ayub, warga Desa Padaran, Rembang mengatakan tiap pagi, pekerja pabrik, siswa sekolah maupun masyarakat yang akan memulai aktivitas, tumpah ruah menjadi satu, dalam waktu hampir bersamaan. Kondisi jalan padat merayap.
“Termasuk pada sore hari, ketika jam pekerja pulang. Cuma tidak separah di pagi hari,” tuturnya.
Menurutnya, kondisi tersebut meningkatkan potensi kerawanan kecelakaan. Bahkan hampir setiap hari ada saja kejadian kecelakaan, dengan skala bervariasi.
“Masak seperti ini akan dibiarkan terus berlarut-larut. Masyarakat sekitar pabrik juga mendambakan situasi aman dan nyaman,” kata Ayub.
Maka Masyarakat Sipil area pabrik Rembang menawarkan dua solusi alternatif, untuk mengatasi masalah tersebut.
Yang pertama, penerapan two in one, yakni 2 pekerja naik 1 sepeda motor, dengan tujuan untuk mengurangi jumlah kendaraan.
“Bisa berboncengan. Saya kira usulan ini dapat ditindaklanjuti lebih serius melalui aturan pabrik,” terangnya.
Alternatif kedua, pihak pabrik menyediakan bus karyawan, sehingga para pekerja cukup berada di titik-titik kumpul, ketika berangkat dan pulang kerja.
“Menyediakan bus karyawan, kan bisa kerja sama dengan bus-bus lokal untuk mengantarkan. Asal hal-hal seperti ini difasilitasi oleh pabrik, tentu akan menjadi solusi,” kata Ayub.
Pihak pabrik saat dikonfirmasi antara tawaran 1 motor untuk 2 pekerja atau menyediakan bus karyawan, cenderung lebih memilih 1 motor untuk 2 pekerja.
“Bonceng two in one,” kata Ali Mustofa, perwakilan manajemen pabrik sepatu.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Rembang, Nur Purnomo Mukdi Widodo mengakui pihaknya juga sedang mengupayakan solusi, atas berbagai masukan masyarakat. Termasuk merancang alternatif rekayasa lalu lintas.
“Nggeh mas, soal itu sedang diupayakan terkait itu. Alternatif-alternatif rekayasa lalu lintas dan mengupayakan angkutan massal di jalur pabrik. Semoga bisa segera diwujudkan,” ujar Nur Purnomo. (Musyafa Musa).

