
Rembang – Teknologi pertanian semakin cepat bergulir, sehingga kedepan sektor tersebut akan lebih menarik untuk anak-anak muda.
Namun harga alat mesin pertanian (Alsintan) relatif cukup mahal, sehingga kelompok tani kebanyakan mengandalkan bantuan dari pemerintah.
Lilik Kurnia, salah satu pegawai penyalur Alsintan menjelaskan dari sisi harga bervariasi, tergantung merek, bentuk dan kapasitas.
Ia mencontohkan mesin tanam padi atau transplanter pada kisaran harga Rp 58 Juta, rotavator atau alat pengolah tanah Rp 330 Jutaan, kemudian mesin pemanen padi Rp 475 Juta.
Ada pula drone penyemprot pestisida yang harganya kisaran Rp 230 Jutaan.
“Drone basmi hama, Antasena namanya, kita pake bahan bakar 20 liter untuk 1 hektar selama 1 jam. Kami juga ada drone untuk memupuk,” ungkapnya.
Pemakaian Alsintan akan mempercepat waktu dan menghemat biaya operasional.
“Panen padi misalnya, gabah tidak mudah gogrok, sehingga memperkecil resiko susut,” imbuh Lilik.
Lilik mengakui di Kabupaten Rembang, tingkat penggunaan mesin-mesin canggih termasuk drone, masih sangat jarang.
“Makanya belakangan ini kita coba masuk ke Rembang. Kalau mau nyoba langsung, silahkan. Kita ajari sampai bisa,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Dan Pangan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto menyebut petani di wilayahnya mayoritas sudah di atas usia 50 tahun.
Regenerasi menjadi satu hal yang penting dilakukan, sehingga ada keberlanjutan profesi petani, terutama dalam menjaga ketersediaan pangan.
“Salah satunya melalui penyaluran bantuan Alsintan dari pemerintah yang rutin setiap tahun. Perkembangan hasil tembakau yang bagus, tampaknya juga menarik petani-petani muda untuk balik kampung. Tapi kita ingin kampanye petani muda ini semakin masif kedepan,” kata Agus. (Musyafa Musa).

