
Rembang – Pemerintah Kabupaten Rembang terus berupaya meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana alam. Salah satunya dengan menambah jumlah Desa Tangguh Bencana (Destana).
Plt Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang, Muhammad Luthfi Hakim mengatakan jumlah Desatana di Rembang saat ini baru sebanyak 33 desa.
Ia berharap kedepan jumlah Destana semakin bertambah, sehingga dapat meminimalisir dampak dari peristiwa bencana alam.
“Semoga saja 130 desa yang kami undang pagi ini bisa masuk semua secara bertahap menjadi Destana,” ujar Lutfi saat kegiatan rapat koordinasi penilaian ketangguhan desa di lantai 4 Gedung Setda Rembang, Rabu (15/04).
Luthfi menambahkan, pencegahan kebencanaan bukan hanya tugas dari pemerintah daerah saja. Namun juga melibatkan banyak unsur, diantaranya masyarakat, dunia usaha hingga media.
“Momen bencana ini merupakan siklus yang terus berulang. Karena alam punya caranya sendiri untuk mengingatkan kita. Maka perlu peran semua pihak ketika pra bencana, saat bencana serta pasca bencana,” imbuhnya.
Sementara itu, Plh Bupati Rembang, Muhammad Hanies Cholil Barro’ menyatakan secara total ada sebanyak 199 desa rawan bencana di Kabupaten Rembang.
Dalam proses penilaian ketangguhan desa (PKD), nantinya masing – masing desa akan dikelompokkan sesuai tingkat kerawanan bencananya.
“Dari PKD ini nanti hasilnya ada 3 level yaitu level pratama, madya dan utama. Semua disesuaikan dengan tingkat kerawanan setiap desa,” tuturnya.
Sebelumnya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah memprediksi beberapa daerah akan mengalami musim kemarau lebih awal pada April ini, salah satunya Kabupaten Rembang.
Namun beberapa hari lalu hujan deras disertai angin kencang masih terjadi, bahkan sempat menyebabkan pohon tumbang dan kerusakan bangunan di Kecamatan Gunem dan Pamotan.
“Yang namanya prediksi itu belum tentu tepat, bisa saja meleset. Yang terpenting kita selalu waspada,” pungkas Hanies. (Wahyu Adhi).

