Banyak Lampu Mercusuar Mati, Nelayan Di Rembang Was-Was (Kapal Terjebak Di Gugusan Karang)
Lampu mercusuar (lingkaran merah) di sebelah utara Pulau Gede Rembang sudah padam cukup lama.
Lampu mercusuar (lingkaran merah) di sebelah utara Pulau Gede Rembang sudah padam cukup lama.

Rembang – Para nelayan di Kabupaten Rembang mengeluhkan banyaknya lampu mercusuar di tengah laut padam, sehingga membahayakan aktivitas pelayaran.

Paing, seorang nelayan di Desa Gegunung Wetan, Kecamatan Rembang menuturkan setidaknya ada 5 lokasi lampu mercusuar yang lama mati, karena tidak dirawat.

Ia memperinci lampu suar yang mati, seperti di Pulau Gosong sebelah utara Dusun Layur Desa Gedongmulyo Kecamatan Lasem, Borekan sebelah utara Desa Kabongan Lor Rembang, Karang Benowo dan Pulau Gede di sebelah utara Desa Tasikharjo Kecamatan Kaliori, serta Karang Gede di sebelah utara Kelurahan Gegunung Kulon Rembang.

“Perkiraan kami sudah padam dua tahun lebih,” ujarnya, Sabtu (07 Februari 2026).

Selain itu, ada beberapa gugusan karang lain yang perlu dipasangi lampu suar.

Menurutnya, lampu mercusuar tersebut dipasang di kawasan bebatuan karang, supaya tidak membahayakan lalu lintas kapal, terutama pada waktu malam hari.

Begitu lampu padam, sudah berulang kali ada kapal terjebak di atas batu karang, sehingga harus dilakukan penanganan lebih lanjut.

“Sudah ada 3 kali kapal terjebak di karang Pulau Masaran utara Desa Gegunung Wetan, karena tidak ada lampu suarnya. Nggak cuma kapal kecil saja yang kena, kapal besar pun rawan,” imbuh Paing.

Paing menduga lampu suar padam, karena accu-nya tekor. Ia memperkirakan kalau diperbaiki, tiap titik menyedot anggaran kisaran Rp 3 Jutaan.

Karena sudah sangat mendesak, kalangan nelayan berharap pemerintah segera turun tangan memperbaiki.

“Kalau mau dipasangi accu dengan kualitas yang lebih bagus lagi, ya harganya lebih mahal. Mohon lah keluhan nelayan dapat ditindaklanjuti. Kalau lampu suar menyala, tentu sangat membantu kami ketika beraktivitas,” tandasnya.

Respon DPRD & Pemkab

Anggota Komisi II DPRD Rembang, Joko Suprihadi mengaku sudah menerima keluhan dari sejumlah nelayan.

Ia membenarkan di perairan utara Rembang, banyak sekali gugusan batu karang yang harus dihindari kapal.

Kalau tanda lampu suarnya mati, Joko khawatir akan mengancam keselamatan nelayan.

“Keluhan ini sudah bermunculan di bapak-bapak nelayan. Mumpung belum ada kejadian fatal atau jatuh korban, perlu menjadi perhatian serius ini,” ungkapnya.

Joko menambahkan sektor kelautan menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

“Harapan saya, pihak-pihak terkait mau menangani matinya lampu suar ini. Jangan sampai dibiarkan berlarut-larut, yang semula mati, dapat dihidupkan kembali. Mengingat bukan kapasitas Pemkab Rembang untuk mengatasi,” ujar Joko.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan Dan Perikanan Kabupaten Rembang, Mochammad Sofyan Cholid menyatakan lampu suar di laut utara sangat penting untuk menunjang keselamatan pelayaran niaga maupun kapal perikanan.

“Lebih-lebih pantai utara Jawa ini kan termasuk padat oleh aktivitas pelayaran,” terangnya.

Sofyan menimpali pemasangan lampu suar merupakan kewenangan Dirjen Perhubungan Laut.

Ia berharap setelah banyaknya keluhan nelayan, Unit Pelaksana Teknis (UPT) di Pelabuhan Tasikagung atau Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) di Rembang dapat mengajukan ke satuan atas. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan