Kelangkaan Solar Semakin Parah, Dikhawatirkan Memukul Ekonomi
Ratusan jirigen memadati halaman sebuah SPBU di wilayah Kabupaten Rembang bagian timur.
Ratusan jirigen memadati halaman sebuah SPBU di wilayah Kabupaten Rembang bagian timur.

Rembang – Nelayan tradisional di wilayah pantai utara Kabupaten Rembang bagian timur semakin resah, akibat kelangkaan solar untuk keperluan melaut.

Abdul Charis, seorang pengepul rajungan di Kecamatan Sluke mengaku sempat memantau sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), setelah dirinya menerima banyak keluhan dari nelayan.

“Pengin lihat langsung seperti apa kondisinya. Dua bulan lalu sudah terjadi, tapi dua mingguan ini semakin parah, “ kata Charis.

Kondisi antrian jirigen terbanyak terjadi di wilayah Kecamatan Kragan dan Kecamatan Sarang. Tumpukan jirigen kian bertambah, bahkan ada yang mengaku baru memperoleh jatah solar, setelah antri selama seminggu. Dampaknya, waktu melaut menjadi molor.

“Di saat sudah pulang melaut dan mau berangkat lagi, nggak bisa langsung. Tapi harus menunggu lama, bahkan sampai seminggu. Kalau seperti ini terus, ekonomi susah, tambah terpukul, “ imbuhnya.

Menurut Charis, kebutuhan solar tiap nelayan berbeda-beda, tergantung jenis perahu dan kapal. Ia mencontohkan perahu pencari rajungan, rata-rata 10 liter per hari. Sedangkan kapal yang sifatnya pulang harian, bisa mencapai 50 liter.

Menanggapi masalah tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Rembang, Fahrudin menjelaskan kelangkaan solar disebabkan pengurangan volume pengiriman oleh Depo Pertamina, karena pembatasan BBM bersubsidi dari pemerintah.

Pada saat kelangkaan awal yang pertama lalu, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Depo Pertamina Semarang. Kala itu mampu diatasi, dengan menambah pasokan dari depo di Jawa Timur.

“Kami dari Pemkab Rembang tidak tinggal diam, tapi selalu memantau perkembangan, “ tutur Sekda, Jum’at (22 Oktober 2021).

Fahrudin menambahkan kalau masalah semacam ini masih saja terjadi, ia berjanji akan segera merapatkan lagi, untuk membahas solusi yang harus ditempuh kedepan.

“Bagaimana bisa mencukupi kebutuhan masyarakat, meski dengan cara kuota dibagi rata. Saya sudah perintahkan ke Bagian Perekonomian, masalahnya apa dan bagaimana solusinya. Kita akan rapatkan lagi, “ tandasnya.

Sementara itu, sejumlah operator SPBU di Rembang membenarkan jatah solar dari Pertamina berkurang.

Contohnya, jika semula menerima 24 ton, kini menjadi 16 ton atau bahkan kadang hanya dijatah 12 ton per hari.

“Kita penjualan harus bisa ngatur sendiri mas, biar nggak sampai kehabisan total. Soalnya nggak cuma nelayan, kan ada pula kendaraan yang harus kita layani, “ kata seorang operator SPBU yang enggan disebutkan namanya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *