Buka Lowongan CPNS Atau Tidak, Rembang Kekurangan Perawat Dan Dokter
Penguatan inovasi Telponi (Temokno, Laporno, Openi) untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi, di Hotel Aston Inn Rembang, Rabu (29 Juli 2026).
Penguatan inovasi Telponi (Temokno, Laporno, Openi) untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi, di Hotel Aston Inn Rembang, Rabu (29 Juli 2026).

Rembang – Meski kekurangan tenaga perawat dan dokter, namun Pemerintah Kabupaten Rembang belum berencana membuka seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) tahun 2026 ini.

Bupati Rembang, Harno, menyampaikan masalah itu, seusai membuka kegiatan penggalangan komitmen penurunan angka kematian ibu dan bayi, penguatan inovasi Telponi (Temokno, Laporno, Openi) di Hotel Aston Inn Rembang, Rabu (29 Juli 2026).

Harno mengakui kekurangan perawat dan dokter dapat diatasi dengan dua cara.

Pertama, perekrutan ditangani langsung oleh Puskesmas dan RSUD, karena mereka sudah berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

Kedua, melalui seleksi CPNS. Namun hingga saat ini, pihaknya belum ada rencana membuka lowongan CPNS, karena belanja gaji pegawai masih tinggi.

“Seleksi CPNS, belum. Tapi kami tetap mengupayakan usul ke pusat, agar kebutuhan vital semacam ini ditangani pusat. Soal perekrutan oleh Puskesmas maupun rumah sakit, mungkin saja, sambil lihat situasi,” ungkapnya.

Selain kecukupan tenaga kesehatan, Harno menambahkan dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi, juga tidak lepas dari sarana pra sarana, seperti Puskesmas Pembantu (Pustu).

“Pustu tadi saya tanyakan, apakah di setiap desa ada Pustu. Belum 100 %, itu termasuk PR Pemda. Kita ingin prioritaskan yang daerah jauh-jauh, ada Pustunya,” imbuh Harno.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, Ali Syofii menyatakan daerahnya mengalami kekurangan tenaga perawat sebanyak 171 orang.

“Sudah kita hitung, kurangnya kira-kira 171 personil,” bebernya.

Sedangkan Puskesmas Pembantu (Pustu), pada tahun 2025 ada pembangunan 6 unit.

Kalau dijumlahkan dengan 69 Pustu sebelumnya, maka total di Kabupaten Rembang memiliki 75 Pustu.

“Yang terbaru di tahun 2025, ada pembangunan 6 Pustu,” kata Ali.

Menurutnya, pemerintah pusat memiliki kebijakan 1 desa 1 Pustu, sehingga di Kabupaten Rembang masih kurang 219.

“Di Pustu, yang siaga adalah 1 bidan, 1 perawat dan kader kesehatan. Kalau 1 desa 1 Pustu, kita masih kurang banyak,” terangnya.

Khusus angka kematian ibu, Ali memperinci di tahun 2025 ada 5 orang, sedangkan angka kematian bayi selama tahun 2025 mencapai 96.

“Angka tersebut merupakan yang terendah sepanjang sejarah di Kabupaten Rembang. Meski demikian tetap perlu kerja keras, agar bisa terus kita tekan. Nggak hanya dari sektor kesehatan, tetapi semua sektor ikut bergerak,” pungkas Ali. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.