Bupati Lakukan “Provokasi”, Blak-Blakan Soal Jalan Lingkar
Jalan lingkar Kaliori – Rembang – Lasem diperkirakan akan lebih banyak melintasi kawasan persawahan. (Insert) Bupati Rembang, Abdul Hafidz.
Jalan lingkar Kaliori – Rembang – Lasem diperkirakan akan lebih banyak melintasi kawasan persawahan. (Insert) Bupati Rembang, Abdul Hafidz.

Rembang – Pembebasan lahan menjadi tahapan penting dalam rencana proyek jalan lingkar Kaliori – Rembang – Lasem.

Bupati Rembang, Abdul Hafidz meminta bantuan kepala desa untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat, melalui provokasi-provokasi yang positif.

Misalnya, kemungkinan warga mau secara suka rela menghibahkan tanahnya untuk pembangunan jalan lingkar, supaya harga tanah sekitar bisa melonjak. Bagi Hafidz, secara hitung-hitungan tidak akan rugi.

Solusi Keluhan Lambung

“Ini umpama lho ya, umpomo, kan bisa saja, wis tak hibahke tanahku, ben tanah sekitarnya laku mahal. Tanah sing asale rego sewu, begitu ada jalannya jadi 10 ewu (10 ribu-red), “ ujarnya, baru-baru ini.

Sebaliknya jangan malah diprovokasi negatif, sehingga masyarakat bersikukuh tidak melepaskan tanahnya, kalau tidak dibeli dengan harga tinggi sesuai keinginan pemilik.

Masa sekarang ini sudah ada aturan dari pemerintah, apabila untuk kepentingan umum, pemilik tanah wajib menerima harga tanah yang sudah ditetapkan, melalui perhitungan umum di daerah tersebut.

Ketika akses jalan terbuka, Bupati berharap akan berdampak positif terhadap kawasan permukiman maupun sektor industri.

“Ojo malah diprovokasi negatif, ini mau ada proyek jalan lingkar. Kalau nggak dibeli mahal, yo wis gak tak dol, gak usah (ya sudah, ndak usah dijual-Red), jangan seperti itu, “ beber Hafidz.

Abdul Hafidz menambahkan jalan lingkar Kaliori – Rembang – Lasem panjangnya mencapai 25,5 kilo meter, dengan lebar 25 Meter. Rencana proyek tersebut sudah masuk ke dalam Peraturan Presiden No. 79 tahun 2019.

Jika pembebasan lahan selesai, pemerintah pusat sudah menyediakan anggaran sebesar Rp 602 Milyar untuk jalan lingkar. Diharapkan 3 atau 4 tahun kedepan, pembangunan sudah bisa dimulai.

“Jalurnya dari Pantura Kaliori ke selatan, ke timur sampai Desa Tasiksono Kecamatan Lasem, “ imbuhnya.

Keberadaan jalan lingkar ini tak sekedar berfungsi memecah kepadatan arus kendaraan di jalur Pantura, tetapi untuk jangka panjang membuka simpul-simpul perekonomian baru.

Namun hantaman pandemi Covid-19, membuat banyak proyek fisik belum jelas kelanjutannya, karena sebagian besar anggaran pemerintah dialihkan. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *