Menginspirasi, Yukk Kita Belajar Dari Jendela Rumah Warga Ini
Warga Desa Ringin Kecamatan Pamotan, Sohibudin Tamimi menata barang di jendela bagian depan rumahnya. (Foto atas) Warga boleh mengambil barang secara gratis.
Warga Desa Ringin Kecamatan Pamotan, Sohibudin Tamimi menata barang di jendela bagian depan rumahnya. (Foto atas) Warga boleh mengambil barang secara gratis.

Pamotan – Jendela bagian depan di rumah warga Desa Ringin, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang ini pantas disebut sebagai jendela sosial.

Betapa tidak, jendela yang umumnya hanya untuk sirkulasi udara, tapi di rumah milik Sohibudin Tamimi tersebut, justru banyak berjajar aneka macam kebutuhan sehari-hari yang bisa diambil warga secara gratis. Mulai tempe, tahu, cabai, terong, sayur mayur, minyak goreng, gula pasir, garam, kopi dan masih banyak lagi yang lain. Barang dibungkus plastik, kemudian dikaitkan pada paku yang menancap kayu kusen-kusen jendela sepanjang 3 meter.

Warga bisa titip barang di tempat itu dan bisa pula mengambilnya, sesuai kebutuhan. Dalam sehari, rata-rata terkumpul 25 bungkus.

Pemilik rumah, Sohibudin Tamimi mengaku sempat melihat program Jogo Tonggo dari media sosial, untuk meringankan beban sesama tetangga di tengah sulitnya ekonomi selama masa pandemi Covid-19 seperti sekarang.

“Kakak saya yang di Jakarta juga sempat menyampaikan ide seperti itu. Awalnya saya pesimis apa bisa, kemudian saya coba kenapa nggak, “ ungkapnya, Selasa (14 Juli 2020).

Atas dasar itu, ia terinspirasi membuat banner kecil dipasang di atas jendela, agar masyarakat sekitar mengetahui. Menurut pria berusia 40 tahun ini, sejak dibuka hampir 10 hari terakhir, banyak warga yang mau menyumbang.

“Siapa pun boleh mengisi, siapa pun juga boleh ambil. Jadi kegiatan ini bukan milik pribadi atau keluarga saya, tapi untuk warga. Alhamdulilah donasi berdatangan dari temen, saudara, maupun tetangga, “ imbuh Tamimi.

Tamimi menambahkan dirinya juga melibatkan pedagang sayur keliling untuk ikut memasok barang, sebagai bentuk pemberdayaan. Setelah barang digantungkan ke jendela, biasanya warga sudah paham, mengambil secukupnya saja.

“Kita gandeng pedagang sayur, biar tidak merasa ditinggalkan, bagi-bagi rezeki juga. Satu orang ambil berapa, biasanya ya 1 bungkus. Sebaiknya gitu, agar bisa menyebar ke banyak orang, “ tandasnya.

Sejumlah ibu rumah tangga di Desa Ringin, mendukung gerakan tersebut, karena menjadi cara saling berbagi. Dewanti Nurdiana salah satunya. Ia berpendapat saat pandemi Covid-19 seperti sekarang, akan lebih baik bergandengan tangan melewati ujian.

“Bagus sekali bisa saling bantu. Saya biasanya nitip sayur bayam sama kangkung. Apalagi gratis ya, jadi pasti semangat. Harapannya bisa jalan terus dan virus corona segera hilang, “ ungkap wanita yang akrab dipanggil Diana ini.

Warga Desa Ringin lainnya, Heti Nanik Suwartini membenarkan dampak Covid-19 sangat terasa. Manakala antar warga saling bantu, setidaknya akan meringankan beban. Ia mencontohkan saat beragam keperluan bahan memasak digantung di jendela, warga sebenarnya bisa bertukar barang.

“Saya pas cabai ndak punya, ternyata ada tetangga sebelah nyantholke cabai. Begitu pula sebaliknya, saya bantu tempe, warga lainnya pas butuh. Ya paling nggak kita bisa cari bahan memasak hari ini, sesuai kebutuhan, “ ucapnya tersenyum.

Tiap pagi sekira pukul 09.00 Wib, di depan rumah Sohibudin Tamimi ini sudah ramai warga menungggu. Sebagian besar dari mereka adalah kaum lanjut usia. Karena kebetulan masih pandemi, warga yang datang wajib mengenakan masker.

Nah…apakah di lingkungan anda tertarik untuk membuat kegiatan serupa? Semangat berbagi dari Desa Ringin, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang yang layak dicontoh. Apalagi dalam ajaran agama Islam, dengan bersedekah dapat memperpanjang umur dan membuka pintu rezeki kita. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *