Kondisi Bus Pariwisata Di Tengah Pandemi, Semakin Berat Akibat Kebijakan Rapid Test
Garasi bus Po. Subur Jaya di Jl. Pemuda Rembang.
Garasi bus Po. Subur Jaya di Jl. Pemuda Rembang.

Rembang – Sektor transportasi bus pariwisata di Kabupaten Rembang masih lumpuh, akibat terkena dampak pandemi corona.

Di Po. Bus Subur Jaya Rembang misalnya, sudah 4 bulan terakhir ini hampir semua armada bus yang berjumlah 60 an unit menganggur, karena tidak bisa mengangkut penumpang, menyusul sektor pariwisata juga belum mampu bangkit, gara-gara efek corona.

Pengelola Po. Bus Subur Jaya, Agus Cahyana mengaku yang paling membuatnya khawatir adalah krew atau awak bus, berjumlah 150 orang lebih, tinggal di berbagai daerah. Dari angka tersebut, hanya sekira 40 an orang yang sempat menerima bantuan sosial dari pemerintah.

“Nggak ada operasional mas untuk bus pariwisata. Yang pegawai di kantor sini kita masih bisa pekerjakan, tapi kalau krew bus ini yang berat, karena nggak bisa kerja, “ ujarnya, Selasa (07 Juli 2020).

Agus sebatas berharap wabah corona lekas berlalu, sehingga pelan-pelan bisa membangkitkan perekonomian, termasuk mengangkat sektor pariwisata.

“Kita nggak bisa mrediksi ya, tapi untuk pariwisata ini tampaknya butuh waktu pemulihan agak lama. Kalau sampai 2 bulan lagi kondisinya masih seperti sekarang, sudah pasti kita akan semakin berat. Soalnya bayar pajak dan biaya kir kendaraan jalan terus, “ kata Agus.

Agus menambahkan pemerintah sempat menggariskan kepada pengelola bus, yang akan memberangkatkan penumpang dan masuk ke obyek wisata tertentu, harus lebih dulu rapid test. Itu pun jumlah penumpang bus tidak boleh penuh, tetapi maksimal 70 persen dari total kapasitas.

Karena biaya rapid test relatif cukup mahal, sedangkan yang menanggung penyewa bus, sementara ini masyarakat lebih memilih menunggu perkembangan waktu. Jangankan berwisata keluar daerah, kebanyakan warga saat ini juga sedang fokus pada ekonomi keluarga masing-masing.

“Di obyek-obyek tertentu, penumpang wajib rapid test dulu. Krew busnya mungkin bisa kita yang nanggung, kalau penumpang kan penyewa. Belum lagi kebijakan kapasitas penumpang, 70 %. Maksimal 50 orang, berarti kan paling banyak 35 penumpang. Sekarang ini nggak mikir untung, asal jalan saja bisa nutup, sudah seneng, “ imbuhnya.

Pihak manajemen Po. Subur Jaya sempat memantau kondisi awak bus, melalui WA group. Mereka tak semua menganggur total, namun ada pula yang kini banting setir menjadi sopir kendaraan barang, bahkan sopir truk pasir, supaya tetap ada penghasilan. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *