Menarik, Usul Branding 1.000 Kethek
Pengunjung Taman Alas Pandansili melintasi jembatan gantung. (Foto atas) Bupati Rembang, Abdul Hafidz saat datang ke Taman Alas Pandansili, Minggu (29/12).
Pengunjung Taman Alas Pandansili melintasi jembatan gantung. (Foto atas) Bupati Rembang, Abdul Hafidz saat datang ke Taman Alas Pandansili, Minggu (29/12).

Bulu – Bupati Rembang, Abdul Hafidz menyarankan Taman Alas Pandansili di Desa Kadiwono, Kecamatan Bulu diisi 1.000 kera, agar menjadi branding yang menarik bagi wisatawan.

Bupati menyampaikan hal itu saat hadir dalam launching Taman Alas Pandansili di Desa Kadiwono, Minggu pagi (29 Desember 2019). Menurutnya, Taman Pandansili yang menempati area hutan KPH Mantingan menjadi modal luar biasa, untuk dikembangkan. Bagi Hafidz, ide 1.000 kera akan memicu daya tarik tersendiri. Apalagi jika akhirnya nanti kera bisa jinak dengan manusia. Sedangkan kondisi alam, Hafidz menganggap tidak perlu ditata mewah-mewah. Justru kalau masih alami, akan disukai oleh pengunjung.

“Seperti di Bali itu, yang dicari wisatawan juga kethek nya (kera-Red). Orang-orang kota sudah bosan di mal-mal, yang dicari ya alam seperti ini. Makanya untuk daya tarik, saya usul dikasih 1.000 kera. Kalau 1 kera Rp 100 ribu, kan baru Rp 100 Juta. Bertahap misalnya 100 dulu. Sebarkan di sini, wong akan tertarik. Masuk boten niki, “ kata Bupati.

Ahmad Ridwan, Kepala Desa Kadiwono Kecamatan Bulu menanggapi arahan Bupati akan didiskusikan dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kadiwono Sejahtera. Jika melepaskan kera secara liar, rawan menjadi hama pengganggu bagi tanaman petani, sehingga kalau direalisasikan, harus betul-betul dilokalisir dengan baik.

Ridwan memastikan tahun 2020, keberadaan Taman Alas Pandansili seluas 4 hektar akan ditopang dana desa, untuk penambahan wahana permainan, seperti fliying fox, kolam renang portable dan permainan edukasi.

“Ada usul lokasi ini dihubungkan dengan pemandian kolam renang Mantingan dan penangkaran rusa, karena tempatnya berdekatan. Nanti coba kami komunikasikan dengan Perhutani, “ terangnya.

Sementara itu, Administratur KPH Mantingan, Widodo Budi Santoso menyatakan kawasan yang ditempati Taman Alas Pandansili merupakan lahan Perhutani. Hutan tersebut kategori hutan produksi yang difungsikan untuk lindung. Menurutnya, pengelolaan ditangani BUMDes Kadiwono, melalui sistem perjanjian kerja sama dengan Perhutani.

“Kami dapat surat kuasa khusus dari Dirut Perhutani, untuk tandatangani dengan Bumdes. Sudah diatur hak dan kewajibannya masing-masing. Kalau untung seperti apa dan sebagainya, “ ujar Widodo.

Di Taman Alas Pandansili saat ini terdapat rumah pohon, jembatan gantung yang membelah sela-sela pohon jati, gasebo, dan warung kuliner yang menjajakan makanan khas tradisional. Salah satu pengunjung asal Rembang, Herlina Dian Anjani menganggap lokasi Taman Alas Pandansili yang rindang dan sejuk, tepat untuk wisatawan singgah, terutama jika melintas di Jl. Rembang – Blora. Ia memprediksi kalau semakin beragam wahananya, Taman Alas Pandansili kedepan akan bertambah ramai.

“Tadi muter-muter di sini. Nyoba jembatan gantung, dan yang paling menarik rumah pohon. Bisa lihat pemandangan dari atas ketinggian, “ ungkap remaja warga Desa Kabongan Kidul Rembang ini.

Selama soft launching ini, pengunjung bebas memanfaatkan wahana yang tersedia secara gratis. Jembatan gantung menjadi paling ramai. Demi keamanan, warga yang melintas di atas jembatan gantung dibatasi maksimal 5 orang. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *