Ungkap Pengalaman Bertemu Warga China & Korea, Kenapa Tak Mau Pakai WhatsApp
Kapolres Rembang, AKBP Dolly A. Primanto saat menyapa warga, belum lama ini.
Kapolres Rembang, AKBP Dolly A. Primanto saat menyapa warga, belum lama ini.

Rembang – Kapolres Rembang, AKBP Dolly Arimaxionari Primanto mempunyai pengalaman khusus, terkait aplikasi WhatsApp (WA) dan merebaknya interaksi di media sosial. Menurutnya, aplikasi ciptaan asing tersebut, secara tidak langsung semakin “menjajah” Indonesia.

AKBP Dolly Arimaxionari Primanto beralasan WhatsApp berasal dari negara Amerika Serikat. Setiap percakapan pengguna WhatsApp, masuk ke dalam server mereka. Termasuk kemungkinan rahasia-rahasia negara. Hal itu yang membuatnya berpendapat Indonesia dijajah dari sisi tekhnologi.

Menurut Kapolres, kondisi Indonesia berbeda dengan negara China dan Korea. Masyarakat China bangga dengan aplikasi WeChat, sedangkan warga Korea menggunakan aplikasi sendiri, bernama KakaoTalk. Mereka enggan memakai WA, karena alasan keamanan data dan cinta terhadap produk sendiri.

“Waktu saya ketemu, warga China dan Korea nggak mau diajak pakai WhatsApp. Mereka sebaliknya menawarkan pakai WeChat atau KakaoTalk. Lha Indonesia punya apa. Kita nggak sadar, sudah dijajah. Tapi siapa tahu nantinya ada anak negeri di Rembang ini bisa menciptakan semacam WA dan kelak bisa berkembang, “ ujar Dolly.

Selain itu, China dan Korea benar-benar memperhatikan keamanan pusat data. Lokasi yang dipilih sebagai pusat data, berada di kawasan puncak pegunungan dan sangat jauh dari pusat kota. Berbeda dengan Indonesia, pusat data biasanya di tengah-tengah kota besar.

“Sebut saja di Jakarta, pusat datanya ya di pusat kota. Kalau ada sabotase dari negara lain, akan sangat membahayakan, “ bebernya.

Kapolres mengisahkan pengalamannya sebagai penyidik Reserse Dan Kriminal (Reskrim). Tiap kali menangangi kasus pencemaran nama baik dan kejahatan di media sosial, sering muncul kesulitan untuk menutup atau memblokir akun, lantaran harus izin sampai keluar negeri.

“Kalau bukan kasus kejahatan, nggak akan dilayani. Jujur saja agak kesulitan, karena mereka yang punya, “ imbuhnya.

Lantaran begitu cepatnya perkembangan dunia tekhnologi saat ini, anak-anak pun dengan mudah memanfaatkan. Ia sebatas mengingatkan supaya orang tua dan otoritas terkait, bahu membahu untuk menangkal dampak-dampak negatif yang ditimbulkan.

“Anak-anak sudah banyak yang pegang Android. Saat di rumah, di sekolah, duduk bareng sama temen, terkadang main HP terus. Nah, kepolisian merasa perlu mengingatkan, demi kebaikan, “ pungkas Kapolres asli Magelang ini. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *