Pusat Jenazah Tanpa Identitas, Nama Si Fulan Jadi Pengganti
Sekretaris Desa Kabongan Kidul, Joko Sugiyono menunjukkan deretan makam tanpa identitas korban kapal Senopati Nusantara.
Sekretaris Desa Kabongan Kidul, Joko Sugiyono menunjukkan deretan makam tanpa identitas korban kapal Senopati Nusantara.

Rembang – Makam satu ini menyandang predikat sebagai makam yang menjadi pusatnya jenazah tanpa identitas. Bahkan termasuk salah satu makam dengan jenazah tanpa identitas terbanyak di Jawa Tengah.

Yah..lokasi tersebut adalah pemakaman umum Desa Kabongan Kidul, Kecamatan Rembang Kota, Kabupaten Rembang. Kebetulan posisinya berada di dekat rumah sakit dr. R. Soetrasno, sebuah rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Rembang.

Di makam ini, terdapat lebih dari 35 jenazah korban tenggelamnya kapal Senopati Nusantara yang dimakamkan pada rentang waktu bulan Januari-April 2007 silam. Selain itu ada pula jenazah gelandangan meninggal dunia, jasad bayi korban pembuangan, maupun korban kecelakaan lalu lintas tanpa identitas, dikebumikan di makam tersebut. Kalau ditotal semua, jumlahnya mencapai 50 an jenazah tanpa identitas.

Seorang modin Desa Kabongan Kidul, Rembang, Muhammad Abas termasuk yang beberapa kali memakamkan jenazah tanpa identitas. Jika jenazah diketahui identitasnya, sang modin saat do’a di pemakaman selalu menyebutkan nama yang bersangkutan. Berbeda apabila jenazah tanpa identitas, Abas menggantinya dengan nama Si Fulan. Menyangkut biaya pemakaman, rata-rata ditanggung dari pihak manajemen rumah sakit.

“Jenazah tanpa identitas kita makamkan menurut agama Islam. Penyebutan Si Fulan ini, karena kita nggak tahu namanya. Saya sudah tiga kali menangani pemakaman, semua korban kecelakaan. Selain saya, ada mbah modin lain yang dilibatkan dalam pemakaman korban tanpa identitas, “ ujarnya.

Saat kami mendatangi pusat makam tanpa identitas di Desa Kabongan Kidul, kondisi makam sangat rimbun ditumbuhi semak belukar. Bahkan pusara makam nyaris tidak terlihat. Khusus makam korban kapal tenggelam Senopati Nusantara, hanya nampak dari tanda pathok besi saja.

Sekretaris Desa Kabongan Kidul, Joko Sugiyono mengakui aktivitas bersih-bersih makam, ditanggung oleh ahli waris masing-masing. Tak heran jika makam tanpa identitas kondisinya seperti itu, karena memang tidak ada yang merawat.

“Biasanya pemakaman umum yang merawat makam pihak keluarga, mau Lebaran dibersihkan. Kalau nggak ada keluarganya, dari pihak desa nggak ada bersih-bersih secara gotong royong. Kalau musim penghujan, malah tambah rimbun lagi mas, “ kata Joko.

Joko menambahkan pihaknya tidak masalah makam Desa Kabongan Kidul menjadi pusat pemakaman korban tanpa identitas. Selain pertimbangan dekat dengan rumah sakit, hal itu juga karena statusnya sebagai pemakaman umum.

“Dari luar desa mau ke sini ya monggo. Ini kan pemakaman umum. Orang Kabongan Lor, Desa Sukoharjo, panti jompo juga ke sini. Tapi untuk yang makam tanpa identitas, mengelompok di sisi utara, “ imbuhnya.

Soal pengalaman aneh yang dialami warga sekitar makam tanpa identitas, menurut pengakuan masyarakat setempat cukup banyak. Ia menanggapi dengan tersenyum, karena lebih baik diserahkan pada kepercayaan masing-masing. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *