PKL Dr. Sutomo & Wahidin Ditertibkan, Ada Tempat Baru Khusus Jualan Pagi
Seorang PKL menyampaikan aspirasi saat pertemuan di balai Kelurahan Kutoharjo. (Foto atas) PKL yang ingin berjualan pagi, dialihkan dari segi tiga Bappeda sampai rumah dinas Kapolres.
Seorang PKL menyampaikan aspirasi saat pertemuan di balai Kelurahan Kutoharjo. (Foto atas) PKL yang ingin berjualan pagi, dialihkan dari segi tiga Bappeda sampai rumah dinas Kapolres.

Rembang – Satpol PP Kabupaten Rembang menata pedagang kaki lima (PKL) yang biasa berjualan di sepanjang jalan Dr. Sutomo atau sebelah timur Perempatan Jaeni, Jalan Dr. Wahidin atau sebelah barat Perempatan Jaeni dan segi tiga timur kantor Bappeda Rembang.

Kepala Bidang Ketertiban Umum Ketentraman Masyarakat Dan Penegakan Perda Satpol PP, Teguh Maryadi menjelaskan pihaknya baru saja mengumpulkan puluhan pedagang kaki lima di tiga titik tersebut, guna menandatangani kesepakatan. Isi kesepakatan bukan untuk melarang pedagang berjualan, tetapi intinya melakukan pengaturan jam operasional dan posisi lapaknya.

“Pedagang kami kumpulkan di balai Kelurahan Kutoharjo. Hal ini untuk menindaklanjuti kesepakatan sosialisasi sebelumnya, kira-kira 2 Minggu yang lalu. Ini kita ajak ketemu kembali, biar ada langkah-langkah lebih baik, “ ujarnya.

Teguh menimpali untuk lokasi berjualan ditetapkan semua pedagang berada di sisi utara jalan. Tidak boleh dua sisi jalan, utara maupun selatan dipenuhi pedagang seperti yang terjadi selama ini, karena dikhawatirkan kondisinya semrawut dan mengganggu lalu lintas.

Selain mengatur posisi, jam waktu berjualan di sepanjang jalan Dr. Sutomo dan Jl. Dr. Wahidin juga ditentukan, yakni mulai buka pukul 12 siang dan tutup pukul 12 malam. Kalau misalnya ada pedagang ingin berjualan pada pagi hari, diarahkan menempati pinggir jalan dari segi tiga kantor Bappeda sampai depan rumah dinas Kapolres Rembang.

“Jadi jam 12 kebawah, Jl. Dr. Wahidin dan Dr. Sutomo steril dari pedagang. Setelah disepakati, kita rutin memantau aktivitas PKL, melanggar atau tidak. Kalau masih ada yang melanggar, petugas Satpol PP memberikan peringatan secara persuasif agar segera menyesuaikan, “ imbuhnya.

Sementara itu, Supriyadi, seorang pengguna jalan mengaku mendukung kebijakan tersebut. Menurutnya, solusi yang ditempuh sebagai jalan tengah, supaya pedagang tetap bisa mencari nafkah. Di sisi lain, keberadaan mereka tidak terlalu berdampak pada kelancaran lalu lintas.

“Ya memang perlu ada pengaturan-pengaturan semacam itu. Kalau nggak, ya pasti semrawut. Apalagi ruas jalan di situ nggak terlalu lebar kan, “ kata Supriyadi. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *