Tersentak Kaget Harga Mencapai Ratusan Juta Sampai Rp 1 M, Akhirnya Bikin Alat Sendiri
Oven atau alat pengering jagung, yang dibuat warga Desa Suntri, Kecamatan Gunem.
Oven atau alat pengering jagung, yang dibuat warga Desa Suntri, Kecamatan Gunem.

Gunem – Harga jagung rawan dipermainkan tengkulak, karena mayoritas petani menjual jagung hasil panen dalam kondisi masih basah. Berbeda jika dijual dalam kondisi jagung kering, harganya relatif terpaut cukup jauh.

Berawal dari fenomena tersebut, sejumlah warga Desa Suntri, Kecamatan Gunem membuat oven atau pengering jagung, hasil modifikasi sendiri dari drum bekas.

Seorang warga Desa Suntri Kecamatan Gunem, Fuad Edi Santoso mengungkapkan pihaknya sempat ingin membeli alat pengering jagung. Namun tersentak kaget, lantaran harga di pasaran antara ratusan juta hingga Rp 1 Milyar.

“Tentu dengan harga seperti itu, nggak akan mampu terjangkau bagi petani kecil seperti kami, “ ujarnya.

Kemudian warga merancang alat pengering memanfaatkan drum bekas hasil membeli dari pengepul besi tua (rosok) seharga Rp 125 ribu. Drum dirancang sedemikian rupa, agar jagung pipilan dapat dimasukkan. Drum ditopang tiang besi, disambungkan dengan roda pemutar yang digerakkan oleh mesin kompresor. Bawah drum terdapat tungku dan pada salah satu sisi drum, diberi kipas angin untuk mempercepat pengeringan.

“Dengan oven sederhana seperti ini, insyaallah petani mampu buat. Yang penting bisa mengambil manfaat dan tidak terlalu berat pengeluaran, “ terang Fuad.

Fuad menimpali pada awal uji coba oven, getaran sangat kuat, karena rangka besi penopang terlalu tinggi. Setelah posisi direndahkan, getaran dapat diminimalisir.

Selain itu, ketika menggunakan bahan bakar gas elpiji, biayanya mahal. Maka diganti dengan membuat tungku berbahan janggel atau bonggol jagung, yang banyak ditemukan di lingkungan sekitar kampung. Biaya operasional mesin oven tersebut menjadi sangat murah. Kalau dirata-rata pengeringan jagung 50 Kg, menghabiskan ongkos Rp 1.000.

“Memang pengeringan di oven ini agak lama, sekali giling paling nggak 3 jam. Tapi biaya operasionalnya sangat murah. kebetulan untuk mencari janggel sendiri di sini dapatnya mudah, “ imbuhnya.

Semenjak berhasil memodifikasi alat pengering jagung, dirinya beberapa kali mengikuti gelaran pameran. Banyak petani yang tertarik. Ia sendiri dengan tangan terbuka mau berbagi ilmu, seputar pengalamannya. Jika ditotal termasuk dengan mesin kompresor dan biaya pembuatan, oven jenis ini tidak sampai menghabiskan biaya Rp 5 Juta. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *