Jual Beli Genderuwo, Berapa Tarifnya ?
Kawasan Cungkup di Desa Besowo, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban, Jatim.
Kawasan Cungkup di Desa Besowo, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban, Jatim.

Tuban – Desa penghasil genderuwo, sekilas memang terdengar ngeri. Tapi begitulah mitos yang melekat pada Desa Besowo, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban, sebuah kampung berjarak sekira 50 an kilo meter, sebelah barat Tuban, Jawa Timur. Secara turun temurun desa yang mayoritas warganya berprofesi sebagai petani ini, dikenal sebagai pusat jual beli genderuwo.

Memasuki Desa Besowo, terlihat kanan kirinya cukup rindang oleh hutan jati. Begitu sampai, kami melihat kondisi aktivitas masyarakatnya, sama seperti kampung pedesaan yang lain. Tidak ada tanda-tanda menyeramkan, bahwa Desa Besowo memiliki riwayat sebagai penghasil genderuwo.

Agak sulit mendapatkan informasi akurat tentang mitos itu, apalagi di kalangan generasi sekarang. Beruntung, ada kenalan rekan yang menyarankan ketemu Sumadi, seorang tokoh masyarakat Desa Besowo. Sumadi termasuk memiliki silsilah keturunan dengan kakek buyut Mbah Palu, tokoh dukun perantara genderuwo yang sangat tersohor kala itu.

Disambut sangat ramah di rumahnya, pria berusia 69 tahun itu menceritakan seperti apa keterkaitan antara Desa Besowo dengan genderuwo. Menurutnya, masyarakat sudah terbiasa dengan hal-hal berbau mistis seperti itu. Bahkan ia sendiri sempat akan diikuti genderuwo dari kawasan Hutan Kalang, yang terkenal angker. Namun dirinya menolak, karena tak ingin terjerumus pada syirik.

“Itu dari mbah buyut saya, mbah, kemudian turun lagi ke bapak. Setelah bapak meninggal, sempat ada yang mau ikut saya. Bilangnya buatkan kamar di timur, saya tanya awakmu soko ngendi ? dari Hutan Kalang katanya. Saya nggak mau. Akhirnya pergi, cuman saya bilangi jangan ganggu orang, “ bebernya, Rabu (26/06).

Meski demikian di belakang rumahnya yang terdapat bangunan rumah walet, diyakini masih dihuni genderuwo. Sesekali menampakkan diri, namun tidak pernah mengganggu. Hanya saja bagi orang asing yang singgah ke rumahnya, akan memicu rasa berbeda.

Menurutnya, merawat genderuwo bertentangan dengan ajaran agama Islam. Tiap malam Jum’at harus rutin memberikan makanan, berupa menyan dan kembang.

“Kalau manggil sich bisa, tapi ya harus ada menyan, kembang terus membaca danyang sana danyang sini. Saya nggak mau, syirik dan dosa besar, “ kata Sumadi.

Sumadi menambahkan ada pengalaman aneh yang sampai sekarang tidak pernah dilupakan. Ia kebetulan memiliki kerabat seorang perempuan, yang diduga kuat dihamili sosok genderuwo. Kisah nyata ini terjadi, saat suami dari wanita tersebut pergi ke lahan tegalan. Sang isteri di rumah sendiri. Kemungkinan ada genderuwo menjelma menjadi suami, kemudian pulang ke rumah dan meminta berhubungan layaknya suami isteri. Singkat cerita, wanita ini hamil. Kala itu ketika melahirkan akan dirujuk ke Surabaya. Namun baru sampai Gresik, bayi sudah lahir. Sontak, warga yang mendampingi terkejut, karena bayinya berwujud seperti lutung, kulitnya sangat hitam dan berbulu lebat. Anak yang baru dilahirkan meninggal dunia, sedangkan ibunya juga menyusul meninggal dunia.

“Memang ada makhluk genderuwo yang isengnya kelewatan. Mereka kan juga punya nafsu seperti manusia. Kalau ingin seperti itu, biasanya pura-pura menjelma jadi orang lain dan meminta jatah, “ imbuhnya.

Untuk mendeteksi orang sungguhan atau genderuwo yang menjelma jadi manusia, menurutnya memang agak sulit. Namun bagi warga Desa Besowo, secara kasat mata bisa dibedakan. Salah satunya kalau manusia, di bagian atas bibir atau persis bawah hidung terdapat seperti ada jeda. Tapi genderuwo yang menjelma manusia, pada bagian itu posisinya rata.

Di Desa Besowo, ada 2 lokasi yang dianggap pusat genderuwo. Pertama, kawasan Cungkup, di sisi barat kampung. Cungkup merupakan makam tokoh-tokoh pendiri desa, sekaligus mirip seperti punden. Tapi karena lokasinya sudah mulai berhimpitan dengan permukiman penduduk, berangsur-angsur mitos itu tidak sekuat dulu.

Tempat kedua adalah Hutan Kalang di sebelah utara Desa Besowo, sebuah hutan angker yang sangat jarang dijamah manusia. Di situlah pusat genderuwo dan makhluk astral lainnya. Karena mereka beranak pinak, jumlahnya pun diperkirakan mencapai ribuan.

Kami mencoba menelusuri praktek jual beli genderuwo di Desa Besowo, Kecamatan Jatirogo. Setidaknya, masih ada dua orang yang melayani menjadi perantara jual beli. 1 orang berhasil kita temui, sedangkan satu lagi rumahnya tertutup rapat. Kata tetangga sekitar, tidak menerima tamu sehabis Maghrib.

“Kalau kesini siang sampai sore saja mas. Jangan habis Maghrib seperti ini, “ tutur seorang wanita di lorong gang.

Warga yang datang untuk keperluan mencari genderuwo, rata-rata dari luar daerah, seperti Surabaya, Banyuwangi, Semarang, bahkan ada pula dari Kalimantan. Motivasinya, genderuwo ditugasi untuk menjaga aset barang agar aman atau untuk penglaris usaha. Menurut hasil penelusuran ke sejumlah warga, harga yang dipathok minimal Rp 3 Juta.

Setelah melewati proses ritual, pembeli biasanya diberi segumpal tanah, konon berasal dari Hutan Kalang. Tanah itu nantinya ditanam di lokasi yang ingin dijaga genderuwo. Tapi ternyata banyak pula warga Desa Besowo yang meragukan. Mereka menyerahkan sepenuhnya pada kekuasaan Allah SWT. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *