Sempat Mengusap Air Mata, Pemilik Bengkuang Buka Suara
Penjual bengkuang di Desa Japeledok, Kecamatan Pancur membuat lapak dagangan baru. (Gambar atas) Surati, penjual bengkuang mengungkapkan perihal kecelakaan.
Penjual bengkuang di Desa Japeledok, Kecamatan Pancur membuat lapak dagangan baru. (Gambar atas) Surati, penjual bengkuang mengungkapkan perihal kecelakaan.

Pancur – Pemilik bengkuang warga Desa Japeledok, Kecamatan Pancur, Surati, kepada Reporter R2B, Selasa siang (21 Mei 2019) blak-blakan mengenai peristiwa kecelakaan mobil bak terbuka, yang sempat merusak dagangan bengkuang miliknya, hari Minggu (19/05) lalu.

Surati mengungkapkan setelah bengkuang yang ditumpuk di depan warungnya rusak tertabrak mobil, ia kali pertama memang sempat meminta ganti rugi Rp 1.200.000, guna mengganti bengkuang sebanyak 4 pikul dan dua buah lapak kayu tempat berjualan.

Kemudian ditawar oleh ayahnya Zakiudin, sopir colt bak terbuka sebesar Rp 800 ribu. Ia menyanggupi, asalkan dua lapak kayu tempat menaruh bengkuang diganti. Belakangan dengan disaksikan aparat kepolisian, kedua belah pihak sepakat besaran ganti rugi Rp 1 Juta, tanpa mengganti lapak dagangan.

“Maune arep diwenehi Rp 800 ewu, ya monggo tapi mbalene (lapak jualan-Red) diijoli. Bapake jawab yo mengko tak gawakke soko omah. Terus bapake mlebu omah meneh, ngomong tak wenehi sak yuto sak mbalene yo buk. Ya monggo, kuwi mpun disekseni pak polisi, “ tuturnya.

Surati mengaku sudah mengetahui banyak warganet yang menghujatnya, terkait peristiwa kecelakaan itu. Ia heran, karena sebatas ingin mendapatkan haknya, setelah barang dagangan dan tempat jualan rusak.

“Aku ngomong patang pikul bengkuange, tapi ono sing ngomong 10 gendhel, 14 gendhel. Sing bener kurang luwihe patang pikul, aku nglebokke esuk sore kok. Nalika ditabrak kan bengkuang ambyar, ketoke wong bengkuange mung sithik, “ imbuh Surati.

Ketika ditanya seputar penjarahan ikan muatan mobil bak terbuka pasca kecelakaan, Surati beralasan banyak orang yang mengambil. Kalau belakangan muncul tuntutan agar pelaku penjarah mengembalikan ikan tersebut, ia pribadi merasa keberatan.

“Iwak telung basket wutah kabeh, wong do jupuki. Gak ono sing ngelingno. Ono sing ngomong wis gak opo-opo, wong iwak ae. Lha sakiki ulam kok kon mbalekke, sing ngerti sopo, wong wis dadi t**k, “ ungkapnya tanpa memperinci ikut mengambil ikan atau tidak.

Soal komentar-komentar miring netizen, Surati tahu dari anak-anaknya. Ia mengaku sangat sakit hati, karena baginya terlalu berlebihan.

“Disosotke kon mati, kon mbledos kon sekarat, opo meneh warungku arep dibakar, kan aku mung pengin jaluk dendan ben daganganku mbalik leh pak, “ kata Surati sambil mengusap air mata.

Sebelum Reporter R2B pamit, Surati sempat mengucapkan syukur masih selamat dibalik kecelakaan itu. Saat kejadian, ia kebetulan berada di dalam warung. Padahal biasanya sering duduk di dekat tumpukan bengkuang, yang pagi itu tersambar mobil bak terbuka terguling dari arah barat. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *