
Banyuwangi – Keterbatasan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), membuat Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur gencar mengoptimalkan potensi pariwisata.
Asisten Administrasi Umum Pemkab Banyuwangi, Budi Santoso beralasan sektor wisata menjadi bidikan yang tepat, karena Banyuwangi kaya potensi alam dan kondisi geografisnya berdekatan dengan Pulau Bali, pusat wisata dunia.
“Kalau kami mau bangun industri, pasti kalah dengan daerah-daerah di sekitar Surabaya, seperti Gresik, Pasuruan, Mojokerto, Sidoarjo. Karena kita punya alam, ibu Bupati komitmen ya wisata, investasi yang paling murah dan cepat,”ungkapnya saat hadir dalam Media Gathering Pertamina Regional Indonesia Timur, di Hotel Kokoon Banyuwangi, Jumat (10 Juli 2026).
Budi menyebut kapasitas APBD Banyuwangi hanya sekira Rp 3 Triliun.
Ia mengibaratkan Banyuwangi layaknya sniper menembak satu sasaran, sedangkan daerah-daerah seperti Surabaya dan Bojonegoro memegang senapan otomatis.
“Kita jadi sniper, 1 peluru nembak 1 sasaran. Kalau Surabaya, senapan otomatis, pelurunya banyak. Apalagi Bojonegoro, Pemdanya tidur saja sudah dapat duwit berlipat-lipat, karena potensi Migas. Jadi kita dituntut berkreasi dan berinovasi,”bebernya.
Budi menambahkan ada 3 titik wisata unggulan di Banyuwangi, yakni Kawah Ijen, penangkaran anak penyu Suka Made dan pusat surfing Plengkung.
“Bahkan Plengkung ini merupakan tempat surfing dengan ombak terbaik di dunia, selain Hawaii. Khusus balap sepeda yang biasanya finish di Kawah Ijen, tahun ini tidak diadakan, karena kondisi finansial. Apalagi pemerintah pusat melarang kegiatan-kegiatan yang mengeluarkan dana besar,”ucap Budi.
Keunikan lain, Banyuwangi yang berada di ujung timur Pulau Jawa, memiliki daya tarik sunrise, sehingga daerahnya terus menggaungkan slogan “The Sunrise Of Java”.
“Kami punya event juga banyak sekali. Salah satu unggulan adalah event Gandrung Sewu dengan 1.500 penari, tampil kolosal di pantai. Terbukti, menjadi daya ungkit yang luar biasa,” imbuhnya.
Dari upaya menggerakkan pariwisata, Banyuwangi kini semakin tumbuh dan berdampak positif terhadap sektor-sektor lain.
“Alhamdulillah, kita mendapatkan penghargaan dari pemerintah pusat, Pemda dengan kinerja terbaik. Sistem pemerintah berbasis elektronik (SPBE) kita juga terbaik di tingkat nasional. Meski dengan kondisi keuangan pas-pasan, berkat kerja sama super tim, semakin banyak yang melirik, datang dan mau kembali lagi ke Banyuwangi,” tandas Budi.
Sementara itu, Senior Manager Relation Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina, Sigit Dwi Aryono menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak.
“Nggak hanya Migas, tetapi energi kolaborasi, gagasan, komunikasi, antara perusahaan, media dan masyarakat,” tutur Sigit.
Sigit menambahkan Media Gahtering diadakan rutin sebagai sarana komunikasi dan tahun 2026 ini memilih Kabupaten Banyuwangi.
“Untuk berhasil di masa depan, tidak bisa sendiri-sendiri. Tapi kolaborasi, kerja sama dan sinergi. Kehadiran rekan-rekan wartawan di Banyuwangi, nggak hanya untuk saluran informasi dalam pengembangan Migas kedepan, tetapi juga ikut mengangkat nama Banyuwangi lebih luas lagi,”pungkasnya. (Musyafa Musa).

