Gaung Tolak MBG Mencuat, Begini Tanggapan Kepala SMP N 5 Rembang Menik Mustikatun
Kepala SMP N 5 Rembang, Menik Mustikatun.
Kepala SMP N 5 Rembang, Menik Mustikatun.

Rembang – Pihak sekolah SMP N 5 Rembang tidak berani menolak program makan bergizi gratis (MBG), meski ratusan siswa, guru hingga pegawai TU, mengalami gejala dugaan keracunan.

Per hari Kamis (06 Agustus 2026), MBG di SMP N 5 Rembang sudah terhenti, menyusul dapur SPPG Mondoteko 3, berhenti beroperasi, buntut dari kejadian tersebut.

Kepala SMP N 5 Rembang, Menik Mustikatun mengatakan dulu semenjak ada peristiwa MBG nasi kuning lembek (“mblenyek”), penyaluran sempat berhenti agak lama.

Ia sering ditanya siswa, kapan ada MBG lagi.

“Pengalaman yang dulu, 1 bulan nggak dapat MBG, anak-anak nanya kok nggak dapat MBG lagi, kapan ada lagi,” ungkapnya.

Soal kelanjutan MBG, Menik mengaku mengalir saja, tinggal menyesuaikan kebijakan dari satuan atas.

Sekolah di tingkat bawah hanya sebagai pelaksana saja.

“Ini kan program Presiden, kita nyengkuyung mengalir saja. Kita kan pelaksana, nunggu kebijakan dari bapak-bapak di atas,” imbuh Menik.

Menik menambahkan ia sendiri termasuk yang turut mengonsumsi MBG pada hari Selasa lalu.

Rabu dini hari (05/08) mulai diare, kemudian sempat mereda. Namun tak berselang lama, diare lagi. Kondisi itu disertai badan demam dan lemas.

Meski demikian, wanita yang tinggal di Perumahan Puri Mondoteko Rembang ini tetap masuk bekerja, karena alasan banyak tamu yang datang.

“Saya sendiri juga termasuk korban mas, tapi berusaha tetap masuk, meski di badan rasanya masih lemas. Tadi anak-anak yang masuk sekolah juga menjalani pemeriksaan dari petugas Puskesmas dan Dinas Kesehatan. Kalau perlu diobati ya diobati,” bebernya.

Sementara itu, warganet di berbagai platform media sosial lokal Rembang menyerukan supaya sekolah-sekolah berani menolak MBG, demi keselamatan siswa.

“Untuk semua sekolahan, tolak MBG. Gak satu dua kali anakmu sakit, trus kalau anakmu sampai meninggal karena MBG, bagaimana ortunya,” ujar seorang warganet.

“MBG, makanan bergizi apa makanan berbahaya,” timpal warganet lain.

“Tutup selamanya lebih bagus,” komentar Inu Yasa.

“Gak usah ono MBG lah, aku orang tua anak. Anakku yo jadi korban kelas 9. Anakku mutah-mutah terus, sambat wetenge loro. Wong tuwo ndi sing ora bingung, ngonoku tengah wengi, Seloso jam 12,” kata Nurul G.

“Selama ini nggak ada sanksi hukum dan kompensasi buat korban,” keluh Ajie M.

“Diberhentikan saja, dirapatkan wali murid serta guru-guru. Banyak yang nggak termakan, malah mubadzir,” urai Chey berpendapat.

“Kepala sekolahnya harus tegas tidak usah menerima MBG. Kasihan anak didiknya jadi korban, jangan terulang lagi,” pinta Titik S. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.