
Kragan – Sejumlah industri rumah tangga di Desa Karangharjo dan Desa Karanganyar, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang mengembangkan ikan blolok, diolah menjadi keripik.
Pembuat keripik ikan blolok dari Desa Karangharjo Kecamatan Kragan, Siti Rukayah mengatakan bentuk ikan blolok seperti ikan trunul, dengan ukuran kecil-kecil.
Ikan jenis ini umumnya diperoleh nelayan yang melaut di daerah pinggiran.
“Dari nelayan pinggiran, jadi setiap hari nelayan ya dapat hasil tangkapan. Meski nggak musim sekalipun, dikit-dikit ya masih ada,” ungkapnya.
Awalnya ide pembuatan keripik ikan blolok dikembangkan secara terbatas. Namun kemudian industri rumah tangga tersebut, sejak 4 tahun lalu menjadi mitra binaan PGN Saka, sebuah anak perusahaan dari Perusahaan Gas Negara (PGN).
Mulai dari pelatihan, penyediaan peralatan, hingga pemasaran, semuanya dibantu.
“Berkat fasilitasi PGN Saka, kami bisa lebih mengembangkan usaha,” imbuh Siti.
Siti menimpali pemasaran keripik ikan blolok sudah merambah ke berbagai daerah, seperti Semarang, Yogyakarta, hingga Kalimantan.
Bahkan kerap dijadikan bekal bagi jemaah Umrah maupun jemaah Haji ke tanah suci, karena rasanya yang enak.
“Mereka bilang, gurih buat cemilan. Makan nasi putih hanya dengan keripik ikan blolok, tanpa lauk pun, rasanya sudah nikmat, renyah. Ini khas Kabupaten Rembang lho mas, daerah lain belum ada,” bebernya.
Dalam sebulan, rata-rata ia mampu memproduksi keripik ikan blolok sebanyak 2-3 Kwintal.
“Kalau produksi harian ya sekira 10 Kg,” kata Siti.
Ditanya tentang kendala, Siti menyebut kenaikan harga bahan baku, belakangan ini semakin terasa.
Contohnya, harga tepung tapioka melonjak dan harga ikan blolok juga ikut naik.
“Tepung harganya naik, dari Rp 200 Ribu, sekarang jadi Rp 350 Ribu per sak isi 25 Kg. Harga ikan blolok, dari Rp 4-5 Ribu, sekarang jadi Rp 8-10 Ribu per Kg,” ucapnya.
Pengrajin keripik lainnya, Sulikah, warga Desa Karanganyar Kecamatan Kragan mengaku kenaikan harga bahan baku tersebut, mengakibatkan harga jual keripik ikan blolok turut naik.
Dari yang semula Rp 15 Ribu, kini menjadi Rp 20 Ribu per bungkus.
“Alhamdulillah pembeli memahami kondisi harga bahan baku yang naik. Mohon do’anya, produk ini bisa semakin dikenal luas oleh masyarakat,” ujar Sulikah.
Siti Rukayah dan Sulikah terpilih sebagai dua pengrajin keripik ikan blolok, yang memamerkan produknya dalam pameran di Hotel Tentrem Yogyakarta, Kamis 17 September 2026.
Selain ikan blolok, ditampilkan pula produk lain, seperti gereh layur dan rengginang cumi.
Pameran yang diadakan oleh SKK Migas ini menampilkan produk-produk mitra binaan dari berbagai daerah.
Stand keripik ikan blolok termasuk salah satu yang paling ramai dipadati pengunjung. (Musyafa Musa).

