Breaking News : Sudah 10 Pasien Masuk RSUD, Malam Ini Semakin Bertambah (Dugaan Keracunan MBG Di SMP N 5 Rembang)
IGD RSUD dr. R. Soetrasno Rembang.
IGD RSUD dr. R. Soetrasno Rembang.

Rembang – Total sudah 10 siswa SMP N 5 Rembang yang masuk RSUD dr. R. Soetrasno Rembang, dengan gejala pusing, perut mulas dan diare.

Mereka mulai masuk rumah sakit sejak Rabu pagi (05 Agustus 2026).

Dari jumlah 10 tersebut, per pukul 19.00 Wib, rinciannya 2 pasien menjalani rawat inap, 1 masih tahap observasi dan 7 lainnya boleh pulang atau rawat jalan.

Namun jumlah pasien masih memungkinkan bertambah, karena ada beberapa yang baru datang.

“Kami meminta temen-temen IGD fokus pada penanganan pasien, saat ini beberapa pasien baru datang,” kata Toni Suwarno, Kepala Bidang Pengembangan Dan Informasi RSUD dr. R. Soetrasno Rembang.

Gejala pusing dan diare dialami, setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) hari Selasa (04/08) dari SPPG Mondoteko 3 Rembang, sebelah timur Perempatan Mondoteko (belakang bengkel sepeda motor_Red).

Menu MBG berupa nasi, tempe kering, telur balado, semangka dan susu.

Rabu malam ini, kami juga mendapatkan banyak informasi dari orang tua/wali murid yang menyampaikan anak-anaknya masih lemas dan sering diare.

“Anak saya masih pusing, lemas, diare,” kata salah satu orang tua yang enggan disebutkan namanya.

“Anakku sudah saya periksakan ke dokter,” timpal orang tua lainnya.

“Besok kalau SMP 5 nerima MBG meneh, anakku jangan dikasih. Sampe dikeki, tak guwak omprenge,” ujar orang tua yang lain.

Sementara itu, tim dari Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, sudah mendatangi dapur SPPG 3 Mondoteko, Rabu siang (05/08).

Al Furqon, Sub Koordinator Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja Dan Kesehatan Olahraga Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, saat dikonfirmasi mengatakan ada beberapa hal yang harus diperbaiki.

Ia mencontohkan kedisiplinan pekerja SPPG menggunakan alat pelindung diri masih terkesan diabaikan. Padahal untuk menjaga higienitas makanan, hal itu merupakan standar operasional prosedur (SOP).

“Yang perlu ditingkatkan adalah higiene dan sanitasi tenaga yang ada, kedisiplinan dalam SOP pengolahan makanan. Bagaimana mereka menerapkan perilaku kebersihan lebih baik, cuci tangan dengan sabun, penggunaan alat pelindung diri pada penjamah makanan, harus pakai apron, tutup kepala, masker, sarung tangan, itu mutlak harus diterapkan,” tandasnya.

Selain itu, jarak waktu antara makanan matang, hingga sampai lokasi distribusi, idealnya maksimal 4 jam, untuk mengurangi potensi kerawanan.

Namun khusus pengiriman MBG ke SMP N 5 Rembang, hasil perhitungan tim di lapangan, masih melebihi ketentuan waktu tersebut.

“Jadi masih ada kelebihan, dihitung sejak makanan matang. Soalnya kalau melampaui 4 jam, risiko akan lebih tinggi. Ini perlu perhatian SPPG, agar bisa mengatur waktu,” imbuh Al Furqon.

Menurutnya, Dinas Kesehatan sudah mengambil sample menu MBG dari SPPG Mondoteko 3, guna pemeriksaan lebih lanjut.

Hingga Rabu malam, Koordinator Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Kabupaten Rembang, Aprilia Qoulan Syaqila belum menyampaikan tanggapan, ketika dikonfirmasi soal dugaan keracunan tersebut. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.