Brigade Pangan Turun Tangan, Petani Bisa Lakukan Penghematan
Brigade pangan Wijaya Abadi memberikan pelatihan penggunaan transplenter untuk keperluan menanam padi.
Brigade pangan Wijaya Abadi menggelar pelatihan penggunaan transplenter untuk keperluan menanam padi di Desa Ketanggi, belum lama ini.

Rembang – Kelompok petani milenial yang tergabung dalam brigade pangan resmi terbentuk di Kabupaten Rembang. Kehadiran mereka diharapkan mampu meningkatkan produktifitas dan membantu mengatasi berbagai permasalahan di sektor pertanian.

Muhammad Winardi, salah satu anggota brigade pangan Wijaya Abadi wilayah Rembang Tengah menjelaskan brigade pangan di Kabupaten Rembang sudah aktif bekerja sejak 2 bulan terakhir. Mulai dari membantu pengolahan lahan, pembibitan hingga penanaman.

“Untuk area kerja kita di wilayah Rembang Kota saja mas. Kita lebih fokus pada pengerjaan lahan yang kurang produktif, utamanya untuk menanam padi,” jelasnya.

Menurutnya, cara kerja brigade pangan yaitu dengan menawarkan jasa kepada petani. Untuk biaya jasa olah lahan (bajak) sebesar Rp 1,5 juta per hektar . Sedangkan biaya bibit hingga tanam Rp 3,5 juta hektar.

“Jadi kami menawarkan satu paket itu biayanya sebesar Rp 5 juta per hektar. Bibit dari kami, kemudian peralatan modern juga kami sudah siap,” imbuhnya.

Seorang warga Desa Ketanggi Kecamatan Rembang, Murawan mengaku sangat terbantu dengan adanya program brigade pangan. Hal tersebut bisa membuatnya menghemat pengeluaran sekira Rp 1 jutaan.

“Biaya dari olah lahan sampai tanam itu sekitar Rp 6 jutaan kalau dikerjakan sendiri. Hitungannya ya lebih hemat kalau pakai jasa brigade pangan. Makanya saya tertarik untuk ikut,” tutur pria yang juga perangkat Desa Ketanggi itu.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto mengatakan brigade pangan di Kabupaten Rembang terbagi menjadi tiga wilayah, yaitu barat, tengah dan timur.

Tugas utama mereka adalah mengoptimalkan lahan di masa tanam (MT) 2 dan 3.

“Tugas brigade pangan adalah memastikan produksi pangan kita aman di kategori swasembada pangan. PR kita yaitu pada MT 2 dan MT 3 kekurangan air, sehingga petani tidak berani mengambil resiko tanam. Disitulah saatnya brigade pangan mengambil peran untuk membantu petani mengoptimalkan lahan,” terang Agus Iwan.

Sebagai informasi, program brigade pangan adalah inisiatif strategis dari Kementerian Pertanian (Kementan) yang menggerakkan kelompok petani milenial untuk memodernisasi pertanian, meningkatkan ketahanan pangan dan membuka peluang karir di sektor agribisnis melalui pengelolaan lahan secara modern dengan teknologi.

“Ini juga bisa menjadi langkah regenerasi, agar sektor pertanian selalu ada penerusnya mas,” pungkasnya. (Wahyu Adi).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.