
Rembang – Banjir menggenangi jalan Rembang – Blora, tepatnya di sebelah selatan Polres Rembang atau depan Rumah Sakit Bhina Bhakti Husada, Senin pagi 12 Januari 2026.
Banjir terjadi setelah hujan deras selama 3 jam lebih. Selain itu, faktor saluran yang belum mampu menampung besarnya limpasan air dari lahan pertanian sebelah timur dan kiriman air dari daerah selatan.
Kondisi itu diperparah saluran pembuangan di sisi utara menuju Perempatan Galonan, posisinya lebih tinggi, sehingga air menggenang.
Padahal beberapa waktu lalu, saluran di kawasan tersebut sudah pernah ditata oleh pihak Dinas Bina Marga.
Meski terjadi genangan banjir, namun pengendara sepeda motor maupun mobil masih bisa melintas jalur tersebut.
Nik’matul Hidayah, salah satu pengguna jalan berharap instansi terkait mencari solusi lain, guna mengatasi genangan air yang sering terjadi, saat curah hujan tinggi.
Mengingat jalur Rembang – Blora merupakan jalan nasional, dengan kepadatan lalu lintas yang semakin meningkat.
“Tentu membuat pengguna jalan menjadi kurang nyaman. Kita antar anak sekolah pakai sepeda motor, sudah pelan-pelan. Tiba-tiba ada mobil nyelonong kencang, kita keguyur air. Seragam anak basah kuyup. Takut terlambat masuk sekolah, ya mau gimana lagi, akhirnya tetap jalan terus. Semoga lebih serius ditangani lah,” ujarnya.
Selain di depan RS Bhina Bhakti Husada, genangan air juga meresahkan di sepanjang Jalan Pemuda Rembang, mulai Perempatan Galonan ke utara.
Air memenuhi badan jalan, karena saluran pembuangan yang tidak maksimal. Bahkan banyak sekali titik air dari bawah trotoar justru keluar menuju badan jalan.
Seorang pengguna jalan, Alfian menyoroti fenomena berkebalikan dan harus dicarikan solusinya.
“Kan seharusnya air dari jalan masuk ke selokan bawah trotoar. Ini nggak, malah air dari dalam selokan keluar ke jalan. Mohon dinas terkait rutin mengecek dan menangani kondisi-kondisi yang tidak beres seperti itu. Takutnya di dalam selokan dibendung, untuk pengairan sawah atau memang tidak pernah dikeruk, sehingga banyak sumbatan sampah,” keluhnya.
Ia mencontohkan di sekitar TK Negeri (depan SPBU), depan kantor PLN maupun utara Perempatan Galonan, situasinya hampir sama. Air dari dalam saluran, melimpas ke jalan raya.
Menurutnya tata kelola perairan di dalam Kota Rembang perlu ada perhatian serius, seiring semakin banyaknya alih fungsi lahan untuk perumahan dan sektor usaha.
“Saya lihat, selama ini kok nggak pernah tersentuh penanganan. Pas cuaca cerah santai, nanti giliran banjir parah, baru gerak. Cara kerja semacam ini yang harus diubah,” pungkas Alfian. (Musyafa Musa).

