
Rembang – Gabungan mahasiswa dan masyarakat akan kembali menggelar aksi, menyoroti berbagai persoalan di Kabupaten Rembang, dengan tajuk “September Hitam”.
Ahmad Fajar Mushoffa, warga Desa Plawangan Kecamatan Kragan menyebut aksi “September Hitam” ini dipastikan akan lebih greget, ketimbang “Mimbar Ekspresi” di halaman Gedung DPRD, beberapa waktu lalu.
“Ya akan ada lagi, ditunggu saja. Masih dalam pembahasan kawan-kawan mahasiswa. Sampai ketemu di September Hitam,” ujarnya.
Ahmad Fajar mengungkapkan berbagai isyu akan ditonjolkan dalam “September Hitam”, seperti kebebasan hak asasi manusia dan mendorong pemerintah bersama DPRD lebih berpihak kepada masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah.
“Cobalah pinter-pinter melihat realitas yang ada sekarang, betapa terseok-seok masyarakat menengah ke bawah. Tapi tunjangan DPRD malah fantastis angkanya. Rembang bukan adem ayem karena kondisi sebenarnya. Tapi adem ayem, karena kita belum tahu saja. Jadi coba kita cari tahu, lebih peduli terhadap realita hari ini,” kata Fajar.
Pemuda yang dikenal dengan pose naik kursi di depan Bupati dan pimpinan DPRD saat Mimbar Ekspresi ini, mengakui tiap kali akan mengadakan aksi, selalu ada pihak-pihak yang tidak berkenan dan mencoba mengintimidasi.
Saat menjelang Mimbar Ekspresi lalu, seorang rekannya yang menjadi Koordinator Lapangan (Korlap) ditekan melalui orang tuanya.
“Jadi ada yang mencoba menekan lewat orang tuanya, untuk mencegah anaknya agar tidak melanjutkan aksinya. Orang tua menelfon anaknya, ini aku didatangi, intinya khawatir akan terjadi apa-apa. Tapi akhirnya aksi tetap lanjut,” tandasnya.
Fajar turut mendorong anak-anak muda jangan diam, ketika melihat perkembangan daerahnya, jauh belum sesuai harapan.
“Saat kemarin ada yang memberikan kata-kata miring, aksi seperti anak Pramuka, itu sudah biasa mas, nggak masalah. Nanti efeknya kalau sudah terasa, mereka baru akan menyadari ternyata ada manfaatnya,” pungkas Fajar. (Musyafa Musa).

