Sudah Tidak Tahan, Puluhan Emak Blokir Jalan Sudan – Terjan (Terganggu Truk Tambang)
Kondisi jalan Sudan-Terjan, saat truk tambang masih lewat. (Foto atas) Warga Desa Sudan Kecamatan Kragan ngluruk ke balai desa, memprotes debu truk tambang.
Kondisi jalan Sudan-Terjan, saat truk tambang masih lewat. (Foto atas) Warga Desa Sudan Kecamatan Kragan ngluruk ke balai desa, memprotes debu truk tambang.

Kragan – Puluhan emak-emak di Desa Sudan Kecamatan Kragan, Rabu (10/09) menggelar aksi protes dengan memblokir akses jalan, karena merasa terganggu polusi debu akibat hilir mudik truk tambang batu tras.

Aksi tersebut kebetulan bersamaan kegiatan pertemuan di Balai Desa Sudan.

Ahwan, seorang warga Desa Sudan menuturkan semula ia sibuk beraktivitas di rumah. Tiba-tiba didatangi para wanita yang sudah jengkel, karena terganggu polusi truk tambang. Mereka memaksa untuk ditemani ngluruk ke balai desa.

“Sudah saya sampaikan di balai desa ada pertemuan. Yang Namanya emak-emak nggak peduli, bilangnya malah kebetulan, langsung saja kesana, ya sudah akhirnya saya dampingi ke balai desa,” ungkapnya.

Emak-emak tersebut memasang drum, untuk menutup jalan. Ahwan membenarkan truk tambang yang lewat Desa Sudan, kebanyakan berasal dari perbukitan Desa Terjan (sebelah barat Desa Sudan_Red).

Kondisi itu terjadi sekira tahun 2004 lalu sampai sekarang. Belakangan polusi semakin mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat sekitar, sehingga warga sudah tidak tahan lagi.

“Di dapur saja, kalau makanan tidak ditutupi rapat, ya kita bisa-bisa makan debu. Rumah saya saja yang di pinggir jalan, nggak ada ventilasinya, karena ya itu, takut debu mas. Sangat jarang warga buka pintu,” kata Ahwan.

Sempat antrian truk memanjang, menimbulkan kemacetan parah. Penutupan jalan akhirnya dibuka, guna memberikan kesempatan truk lewat.

Namun setelah didesak warga, pihak Desa Sudan mengeluarkan surat tertulis, isinya mulai hari Kamis tanggal 11 September 2025, truk tambang dilarang lewat Desa Sudan, sampai ada penyelesaian atas masalah tersebut.

Ahwan mengaku lega, karena sehari ini saja, udara terasa lebih nyaman, dibandingkan hari-hari sebelumnya.

“Bersyukur alhamdulillah. Mohonlah penambang tahu diri, mbok yao wong yahono yahene dibiarkan. Tolonglah ini demi masa depan dan tumbuh kembang anak-anak. Jangan sampai merongrong kesehatan kami,” bebernya.

Ada informasi, pihak desa akan mempertemukan masyarakat dengan pelaku usaha tambang. Muncul tuntutan supaya truk tambang melintas ke jalur khusus tambang, supaya tidak mengganggu warga.

“Semoga pemerintah juga turut memikirkan nasib kami kedepan, masak akan seperti ini terus,” pungkas Ahwan.

Dihubungi terpisah, warga Desa Terjan Kecamatan Kragan, Thoriqul Ulum mengakui kondisi jalan yang berdebu parah, membuat masyarakat harus memakai masker kalau keluar rumah. Kebetulan posisi Desa Terjan dan Sudan saling bertetangga.

“Memang disiram kalau agak siangan dikit, tapi kondisinya ya begitu lah, karena sangking banyaknya truk tambang lewat. Masyarakat sudah lama resah, rata-rata memilih pasrah. Kalau saya, sering menyuarakan melalui media sosial,” ujar Ulum yang juga merupakan aktivis mahasiswa ini.

Sementara itu, Camat Kragan, Nurwanto membenarkan penyampaian aspirasi dari warga Desa Sudan.

“Sudah diambil langkah-langkah dari pihak desa, untuk merespon keinginan warga. Informasi yang kami terima, pemilik truk tambang siap menindaklanjuti,” tandasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan