
Rembang – Sedekah laut di Desa Gegunung Wetan Rembang tahun 2025 ini terasa spesial. Pentas wayang kulit yang digelar, ternyata diisi oleh dalang cilik, berasal dari warga setempat.
Namanya Aditya Joyo Sejati atau akrab dipanggil Mas Joyo. Ia berasal dari keluarga nelayan sederhana dan tidak memiliki garis keturunan seorang dalang.
Rasa cintanya terhadap dunia seni wayang kulit, membuat Mas Joyo belajar autodidak sejak kecil.
Ilmunya semakin terasah ketika duduk di bangku SMP berkat dukungan berbagai pihak, kemudian sempat pentas ke beberapa lokasi.
“Pernah pentas di Tayu, Trangkil dan Pandangan Kragan. Rencananya pada Hari Jadi Rembang akan pentas lagi di pendopo Museum Kartini,” ujar Mas Joyo.
Mas Joyo kini melanjutkan sekolah ke SMK N 8 Surakarta, sebuah sekolah yang terkenal dengan sebutan SMK Seni.
Perangkat Desa Gegunung Wetan Rembang, Risdiyanto mengungkapkan tiap sedekah laut, kampungnya selalu mementaskan wayang kulit siang malam.
“Untuk tahun 2024 kemarin dan 2025 ini Mas Joyo kita tampilkan di pentas siang hari, sebagai bentuk memotivasi Mas Joyo agar selalu geladi, sinau tentang pedalangan,” ungkapnya.
Risdiyanto berharap setelah menempuh pendidikan di sekolah seni Surakarta, bakat Mas Joyo akan semakin berkembang dan kelak bisa menjadi tambahan aset dalang wayang kulit di Kabupaten Rembang.
“Kalau dalang punya anak dalang, mungkin sudah biasa ya. Ini mas Joyo berangkat dari keluarga nelayan tulen. Sebagai bentuk dukungan, pihak desa menyerahkan tali asih sebesar Rp 2 Juta kepada Mas Joyo,” imbuh Risdiyanto.
Menurutnya, dalang cilik termasuk masih sangat langka. Padahal regenerasi di dunia seni menjadi tolok ukur keberlanjutan warisan budaya leluhur. (Musyafa Musa).

