Pekerja Pabrik Rokok Di Kab. Rembang Belum Terpenuhi, Dinas Terkait Ungkap Penyebabnya
Salah satu pabrik di Kabupaten Rembang.
Salah satu pabrik di Kabupaten Rembang.

Rembang – Sejumlah pabrik di Kabupaten Rembang masih kekurangan tenaga kerja, karena para pencari kerja cenderung pilih-pilih.

Kepala Dinas Perindustrian Dan Tenaga Kerja Kabupaten Rembang, Dwi Martopo mencontohkan pabrik rokok Djarum di Rembang dan Landoh Kecamatan Sulang, total membutuhkan 5 ribu pekerja. Namun sampai sekarang belum terpenuhi.

“Contohnya Djarum, kebutuhan 2 ribu di Rembang dan hampir 3 ribu di Landoh, itu saja belum terpenuhi. Pencari kerjanya milih-milih. Ada yang bilang kangelan golek gawean, sebetulnya nggak kangelan, tinggal mau atau tidak,” tuturnya.

Selektif mencari jenis pekerjaan juga tergantung pada besar kecilnya nominal penghasilan.

Umumnya ketika pekerja sudah pernah memperoleh penghasilan tinggi, enggan menerima pekerjaan yang pendapatannya lebih rendah.

“Ya gitu itu validasi, bar entuk sewu, kok mbok kon 700 yo ora gelem. Nek iso yo 1.500, sakduwure kuwi. Sekian tahun yang akan datang, kesulitan yang akan kita hadapi akan stuck, padahal pasar kerja dibuka seluas-luasnya,” ujar Dwi.

Dwi Martopo menambahkan masyarakat Kabupaten Rembang pencari kartu kerja, dalam setiap bulan rata-rata 600 orang. Kalau setahun, mencapai 7.200.

“Sebanyak itu setiap tahun orang yang cari kerja,” imbuhnya.

Ia menyebut dengan tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Rembang tahun 2024 cukup rendah sebanyak 2,84 %, seharusnya warga pencari kartu kerja juga rendah.

“Tapi faktanya kan nggak seperti itu. SMA/SMK setiap bulan Juni dia memproduksi lulusan, dengan beberapa alternatif. Menikah, melanjutkan studi, bekerja atau menganggur,” beber Dwi.

Sementara itu, Irvan, seorang warga di Lasem berpendapat pemerintah membuka peluang investor yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak, sebagai solusi terbaik.

“Belakangan ini ada pabrik sepatu, rokok, pabrik tas bermunculan. Semakin banyak alternatif pilihan,” ungkapnya.

Namun ia mengeluhkan lowongan kerja untuk kalangan laki-laki masih jauh lebih sedikit, ketimbang perempuan.

“Masalah ini mohon dipikirkan. Kalau bisa, jangan terlalu timpang. Soalnya kerja di pabrik pun, kebanyakan masih prioritas untuk perempuan. Andai peluang untuk pria banyak, pengin juga kerja di Rembang, soalnya bisa deket sama rumah,” pungkas Irvan. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan