Bupati Harno : “Saya Sudah Berusaha Nggandhuli…” (Polemik Pabrik Semen Berhenti Produksi)
Deretan truk pengangkut semen berhenti, akibat pabrik semen berhenti beroperasi.
Deretan truk pengangkut semen berhenti, akibat pabrik semen berhenti beroperasi.

Rembang – Bupati Rembang, Harno mengaku sudah berupaya maksimal, untuk menyelesaikan pabrik semen PT Semen Gresik di Kecamatan Gunem yang berhenti produksi.

Namun menurutnya sejauh ini belum ada titik temu untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Pihak Semen Gresik beralasan bahwa penutupan akses jalan tambang oleh Pemerintah Desa Tegaldowo, membuat operasional pabrik terganggu, karena sulit memenuhi bahan baku.

Sedangkan pihak Pemerintah Desa Tegaldowo beralasan penutupan jalan untuk mengamankan aset desa. Mereka masih memberikan ruang jalan selebar 3 Meter, agar tetap bisa dilalui dump truk ukuran kecil, sambil menunggu hasil kasasi yang diajukan PT Semen Indonesia Group (SIG).

Bupati Rembang, Harno mengatakan sudah mengundang kedua belah pihak, untuk menengahi. Namun sayang, belum mencapai kata sepakat.

“Semua sudah saya laksanakan sesuai kewajiban saya menjadi penengah. Tapi solusi terbaiknya belum ketemu,” tuturnya.

Ketika bertemu dengan pihak Semen Gresik, Bupati menyebut pabrik semen rugi, dengan adanya bahan baku tidak bisa masuk secara maksimal.

“Saya ketemu sebelum tanggal 01 Juni. Mereka menginfokan akan off (berhenti), dengan adanya bahan baku tidak bisa masuk maksimal,” kata Harno.

Ia sendiri ingin pabrik semen beroperasi, sehingga pendapatan asli daerah (PAD) maupun aktivitas pekerja tetap berjalan. Namun di sisi lain, pemerintah desa Tegaldowo enggan membuka jalan agar dump truk ukuran besar milik pabrik semen bisa lewat.

“Saya sudah berusaha nggandhuli (pabrik semen tetap beroperasi). Tapi di sisi lain Pemdes (Tegaldowo) masih bersikukuh, maka saya juga tidak bisa berbuat banyak. Yang jelas saya sudah berupaya mengamankan semuanya, PAD masuk, pekerja tidak menganggur, semua bisa mendapatkan kebaikan. Tapi mau bagaimana lagi, kondisinya seperti itu,” imbuhnya.

Saat kondisi masih normal, dalam setahun pabrik semen menyetor pajak sebagai pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Rembang sekira Rp 20-26 Miliar.

Belum lagi dana CSR maupun dana bagi hasil untuk desa-desa di ring 1 sekitar pabrik, serta efek ikutan yang ditimbulkan dari operasional pabrik semen plat merah tersebut.

Harno berharap berhentinya pabrik semen, tidak sampai berimbas pada iklim investasi di Kabupaten Rembang.

“Semoga tidak meluas,” pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan