Bupati Terima Keluhan PDAM Serobot Air Petani, Perjanjian Pembagian Diungkap
Instalasi PDAM di sungai aliran Embung Panohan Kecamatan Gunem.
Instalasi PDAM di sungai aliran Embung Panohan Kecamatan Gunem.

Gunem – Bencana kekeringan mengakibatkan petani mempersoalkan jatah aliran air dari Embung Panohan Kecamatan Gunem.

Bupati Rembang, Abdul Hafidz menyadari curah hujan di wilayahnya rendah dan sumber air minim.

Menurutnya, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sudah menambah sumber-sumber baru dengan sumur bor, karena tidak bisa mengandalkan embung. Contohnya, Embung Panohan yang sudah mengganggu kecukupan air di sejumlah wilayah Kota Rembang.

“Kami terus berupaya, penambahan embung termasuk salah satu solusi, disamping memperbanyak sumur bor,” tuturnya.

Hafidz sempat menerima keluhan dari masyarakat yang menganggap pengambilan air dari Embung Panohan oleh PDAM, mengakibatkan petani tidak kebagian air.

“Kadang ada yang mengklaim goro-goro PDAM, petani tidak dapat. Air digowo moro Rembang buat cuci-cuci mobil, sing wong kene malah gak kumanan. Nah kalimat-kalimat seperti ini muncul,” kata Hafidz.

Maka perlu dicarikan solusi, agar tidak menimbulkan permasalahan. Kalaupun ada penggiliran air bagi pelanggan PDAM, ia meminta jadwalnya jelas.

“Biar ada kepastian, sehingga masyarakat nggak menduga-duga,” imbuhnya.

Tanggapan PDAM

Sementara itu Manajer Teknik PDAM Rembang, Hartono menyatakan sudah ada keputusan pembagian air antara PDAM dengan pertanian, yang ditentukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana Kementerian PUPR.

Pada musim kemarau, PDAM mengambil air sebanyak 20 liter per detik, sedangkan untuk pertanian 50 liter per detik.

“Saat musim penghujan, PDAM bisa mengambil air 40 liter per detik. Jadi ini bukan kita yang menentukan, tapi BBWS dan sudah menjadi perjanjian, kesepakatan bersama,” terangnya.

Hartono menimpali kalau dengan petani di Kecamatan Gunem, pembagian air dari Embung Panohan tidak ada masalah.

“Saya memang sempat mendengar keluhan itu, tapi kelihatannya dari petani Kecamatan Pamotan. Kalau dari Gunem sendiri, nggak ada soal,” ujar Hartono melalui sambungan telefon, Jum’at sore (16/08).

Hartono menyebut air Embung Panohan dialirkan ke 2.500 – 3.000 an pelanggan di Rembang Kota, terutama wilayah Grajen Desa Sumberjo dan sekitarnya. Penurunan debet akhirnya berdampak pada pelayanan pelanggan.

“Ya solusinya penggiliran, tapi itu pun untuk tempat-tempat yang agak tinggi, nggak sampai. Apalagi mengalirkan air dari pipa kosong, juga butuh waktu cukup lama. Nggak seperti listrik mati, diperbaiki kemudian nyala,” pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.