Ogah Jadi Petani, Tapi Lebih Senang Buruh Pabrik (Dintanpan & Bupati Rembang Angkat Bicara)
Aktivitas para petani di Kecamatan Sumber, belum lama ini.
Aktivitas para petani di Kecamatan Sumber, belum lama ini.

Rembang – Kalangan petani di Kabupaten Rembang mengkhawatirkan profesi petani semakin minim penerus.

Solikin, seorang perangkat desa Polbayem Kecamatan Sumber mengamati munculnya pabrik-pabrik besar di Kabupaten Rembang, membuat anak-anak muda lebih senang menjadi buruh pabrik, daripada profesi petani.

Ia berharap Pemkab Rembang serius turun tangan, karena kalau berlarut-larut, akan mengancam ketahanan pangan.

“Generasi kita sendiri meninggalkan profesi petani, ini harus menjadi perhatian dari semua instansi lintas sektoral. Bagaimanapun hasil pertanian akan dimanfaatkan penduduk di Kabupaten Rembang,” kata Solikin.

Kepala Dinas Pertanian Dan Pangan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto mengungkapkan dari total 105 ribu petani, ada 18.346 petani millenial.

Namun yang mencemaskan kondisi 1 rumah tangga pertanian, hanya ada 1 tenaga kerja pertanian, sehingga data ini menggambarkan tidak ada generasi penerus.

“Jadi kira-kira petani millenial kita hanya 19 %. Kalau melihat data rumah tangga pertanian, tidak ada penerus. Umumnya hanya bapak saja yang jadi petani,” terangnya.

Prioritas Bantuan

Agus menimpali ada beberapa kebijakan ditempuh. Pihaknya menetapkan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) yang tidak boleh dialihfungsikan. Nantinya petani pemilik lahan LP2B akan diprioritaskan mendapatkan bantuan-bantuan dari pemerintah.

“Konstruksi maupun alat mesin pertanian (Alsintan) kita arahkan ke LP2B. Jadi tidak hanya kita melarang alih fungsi lahan, tapi juga harus ada penghargaan untuk mereka,” tandas Agus.

Sementara itu, Bupati Rembang, Abdul Hafidz berpendapat kalau sektor pertanian menghasilkan dari sisi ekonomi, pasti anak-anak muda akan tertarik.

“Kuncinya satu, menghasilkan atau tidak, hanya itu saja. Kalau petani menghasilkan, pasti tanpa dipengaruhi akan tertarik,” kata Bupati.

Maka Pemkab sedang berupaya mencari komoditas pertanian yang memiliki nilai jual bagus. Tidak hanya tembakau, tetapi juga komoditas lainnya. Ia juga menekankan petani punya kecerdasan mengatur waktu tanam, sehingga tidak mengalami harga anjlok ketika panen.

“Memang harus cermat dalam mengantisipasi musim dan masa jual. Jangan sampai tanamane wapik, pas didol murah. Jadi harus punya kecerdasan di sana, punya ilmu titen. Tapi dene wis dititeni kok ora pas, yo pancen rezekine cuman segitu, harus bisa menerima,” imbuhnya.

Di Kabupaten Rembang, jumlah petani terbanyak berada di Kecamatan Sarang, dengan 12 ribuan lebih, kemudian disusul Kecamatan Kragan 11 ribuan. Sedangkan yang terendah di Kecamatan Lasem, hanya 4 ribuan. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan