Gerakan Seni Budaya Dari Pelosok Kampung, “Glagah Tulak” Berlangsung Semarak
“Temu 10 Desa, Glagah Tulak” di Joglo Embung Sudo Kecamatan Sulang. (Foto atas) Penampilan thong-thong lek Cah Mboleyong dari Desa Sudo meramaikan suasana.
“Temu 10 Desa, Glagah Tulak” di Joglo Embung Sudo Kecamatan Sulang. (Foto atas) Penampilan thong-thong lek Cah Mboleyong dari Desa Sudo meramaikan suasana.

Sulang – Pentas seni budaya dari pukul 09.00 pagi sampai 23.00 malam di Joglo Embung Sudo Kecamatan Sulang, berlangsung semarak, hari Minggu (28 Januari 2024).

Dalam kegiatan yang bertajuk “Temu 10 Desa, Glagah Tulak” itu, perwakilan dari 10 desa bergantian menyajikan penampilan terbaik.

Kurnia Anita, pegiat budaya dari Desa Krikilan Kecamatan Sumber mengatakan kampungnya menyumbangkan Tari Gondhoriyo.

“Tari ini dilakukan sepasang laki-laki dan perempuan, khasnya si perempuan diangkat ke atas laki-laki,” ungkapnya.

Kurnia berharap desa tidak perlu minder menampilkan seni budaya masing-masing, meski masih dalam skala terbatas.

Ia merasakan wadah temu 10 desa ini menjadi embrio yang menarik, untuk menghidupkan potensi budaya.

“Nggak masalah diawali dari desa, saya berharap melalui event Glagah Tulak ini mampu membangkitkan semangat desa untuk melestarikan seni budaya mereka,” imbuh Kurnia.

Hal senada diungkapkan Kasrin, perwakilan dari Desa Megulung Kecamatan Sumber.

Kampungnya menampilkan Rebana Megulungan, yang membawa pesan-pesan perpaduan budaya Jawa dan Islam.

“Rebana Megulungan jadi pembuka. Nanti malam, ditutup dengan Limbukan,” ujar Kasrin.

Menurut Kasrin, para pemain rebana yang didominasi kaum sepuh, menjadi tantangan untuk melakukan regenerasi, sehingga seni rebana memiliki tenaga penerus.

“Dari temu 10 desa ini, jujur membuat kami tertantang untuk lebih aktif lagi menggerakkan seni budaya di desa kita. Setelah rebana, nanti ingin melebar ke seni karawitan. Di Desa Megulung, dulu seni karawitan pernah berjaya, penginnya ada transfer ilmu dari yang sepuh ke anak-anak muda,” bebernya.

Selain kedua desa tersebut, ada 8 desa lain yang turut meramaikan, yakni Desa Sekarsari, Pelemsari, Sumber, Kedungasem, kemudian Desa Ketangi Kecamatan Pamotan, Desa Tanjung, Desa Sudo, serta Desa Pondokrejo.

Kepala Desa Sudo, Sadi mendukung tekad untuk mengangkat seni budaya dari pelosok kampung, karena perlu dukungan masyarakat.

“Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikan,” ungkapnya.

Ia berharap gerakan dari 10 desa ini akan semakin meluas ke desa-desa lain.

“Harapan saya nggak hanya 10 desa ini, tapi kedepan bisa berkembang, terus ngremboko,” tandas Sadi.

Dalam kegiatan tersebut, perwakilan 10 desa juga berembug, sekaligus menyepakati pentas seni budaya semacam ini akan digelar berkelanjutan. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan