Hari Batik : Dua Tantangan Bagi Pengusaha Muda, Bella Punya Ceritanya
Bella Ayu Paramitha dan batik tulis Lasem Sekar Mulyo.
Bella Ayu Paramitha dan batik tulis Lasem Sekar Mulyo.

Lasem – Di Hari Batik yang jatuh tiap tanggal 02 Oktober, kali ini ada profil Bella Ayu Paramitha, warga Desa Babagan Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang yang menggeluti usaha batik tulis Lasem Sekar Mulyo.

Wanita berusia 27 tahun tersebut, menjadi salah satu pengusaha muda, yang sejak tahun 2015 lalu, aktif melanjutkan pengembangan bisnis orang tuanya. Ia pun erat bersentuhan dengan media sosial, untuk mempromosikan batik Sekar Mulyo.

“Paling banyak saya menggunakan Instagram,” ujarnya, Senin (02 Oktober 2023).

Bella menyadari pemasaran online mampu menjangkau pasar lebih luas, sehingga menjadi fokus perhatian. Ia mencontohkan kerap mengirimkan kain batik Sekar Mulyo ke Aceh, Papua, Thailand dan Singapura, juga berawal dari postingan di media sosial.

“Sering juga kirim ke Jerman, Belanda dan Amerika, melayani orang Indonesia yang tinggal di sana. Tapi sistemnya barang dititipkan dulu di Indonesia, kemudian baru dikirim ke sana, mungkin nunggu barang banyak dulu,” imbuh Bella.

Ditanya soal kendala, Bella membeberkan kenaikan harga bahan baku belakangan ini, membuat harga batik tulis juga ikut meningkat. Ia menjual batik Sekar Mulyo, pada kisaran harga Rp 250 ribu sampai Rp 10 Juta per lembar.

“Yang harga jutaan, biasanya pembeli dari kalangan pejabat, pengusaha maupun orang-orang yang memang seneng sama batik tulis,” terangnya.

Selain itu, munculnya pabrik sepatu dan tas di Rembang turut berdampak pada pembatik yang keluar dan memilih bekerja ke pabrik. Fenomena tersebut betul-betul dirasakan pengusaha batik, sehingga pihaknya harus mencari alternatif agar mereka mau bertahan.

“Pembatik saya kan 150 an orang, begitu keluar 30 saja sudah kethetheran. Dinamis sich, ada keluar dan ada yang masuk. Tapi ongkos produksi yang naik, kita imbangi juga dengan tiap tahun menaikkan gaji pembatik. Kita sekarang lebih memberikan bekal sama orang-orang dari awal gimana caranya nyanthing, pewarnaan, buat batik, biar ada keterikatan,” ungkap Bella.

Pasar batik tulis yang masih terbuka lebar, membuat mantan Mbak Rembang ini mengajak anak-anak muda untuk tidak ragu mengenalkan sekaligus berbisnis batik tulis Lasem kepada dunia luar.

Baginya, prospek kedepan akan semakin menjanjikan. Lebih-lebih jika pemerintah memperbanyak kebijakan yang mendukung para pengusaha batik bisa semakin tumbuh berkembang.

“Misal ada kebijakan pakai sarung batik di kalangan pegawai atau pakai baju batik pada hari-hari tertentu. Dukungan seperti itu, melegakan bagi kami,” pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan