Beda Lokasi, Empat Sosok Ini Sama-Sama Menebar Inspirasi
Empat sosok lokal hero yang menginspirasi. (Foto atas) Empat lokal hero diapit pihak Pertamina foto bareng, seusai tampil di acara Media Gathering Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina di Yogyakarta, Minggu (24 September 2023).
Empat sosok lokal hero yang menginspirasi. (Foto atas) Empat lokal hero diapit pihak Pertamina foto bareng, seusai tampil pada acara Media Gathering Pertamina di Yogyakarta, Minggu (24 September 2023).

Yogyakarta – Empat orang ini mendapatkan julukan sebagai lokal hero, karena dianggap menjadi pahlawan atas jasa jasanya kepada lingkungan sekitar. Meski mereka tersebar di tempat yang berbeda, namun memiliki kesamaan yang menonjol.

Keempat tokoh tersebut dikenalkan kepada awak media dalam kegiatan Media Gathering Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina di Yogyakarta, Minggu (24 September 2023).

Tokoh pertama adalah Imam Muhlas, warga Desa Sendangharjo Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur yang mempunyai program Si Imut My Darling (integrasi ikan-magot-unggas dan ternak bersama masyarakat sadar lingkungan).

Imam mengungkapkan Si Imut My Darling berawal dari tahun 2017, saat kali pertama membentuk Bank Sampah Mandiri Keluarga Harapan. Jumlah sampah yang semakin banyak, ditampung warga dan hasilnya dapat digunakan untuk membayar pajak bumi dan bangunan (PBB).

“Kalau di pedesaan itu kan penduduknya menengah ke bawah. PBB ada yang 30 ribu, Rp 50 ribu per tahun. Kita nimbang sampah 4 kali, hasilnya alhamdulilah bisa buat bayar PBB. Kira-kira sudah ada 350 KK yang ikut,” ujarnya.

Karena lama kelamaan bank sampah identik seperti tukang rosok, pihaknya mencoba inovasi lain.

“Soalnya menjadi beban berat buat kami, namanya bank sampah kok masih banyak sampah yang belum tertangani,” kata Imam.

Setelah itu, muncullah gagasan mengelola sampah organik yang diintegrasikan dengan ikan, magot dan unggas. Dari hasil pengolahan itu, menjadi produk pupuk dan pakan ternak.

“Kebetulan di desa kami ada ternak lele, ternak ayam, jadi bisa langsung dimanfaatkan,” bebernya.

Lama kelamaan pengolahan sampah menjadi semakin berkembang, setelah ada mesin pengolah sampah, hasil bantuan dari Pertamina.

Kelompoknya mampu membuat bahan bakar alternatif (BBA) gas metan, dari hasil mengolah sampah plastik.

“BBA setara premium sudah kita ujicobakan ke sepeda motor, yang setara solar kita ujicoba ke traktor, katanya lebih enteng ternyata. Tapi BBA ini sebatas untuk komunitas sendiri, bukan untuk dijual. Alhamdulillah kami yang pertama di Jawa Timur,” imbuh Imam.

Imam mengakui tantangan terberat adalah cara pandang masyarakat desa, yang umumnya masih kurang peduli terhadap sampah.

“Rata-rata menganggapnya saya ndak ngurusi sampah, masih isih urip (hidup). Makanya saya ajak isteri dan mas saya untuk terlibat dulu jadi pengurus. Ndak mungkin kan keluarga saya masih nolak, kemudian saya ngajak orang lain,” tandasnya.

Imam selalu terngiang-ngiang dengan pernyataan presiden Gus Dur kala itu, untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.

“Gus Dur pernah menyampaikan saat kita lahir, banyak orang tertawa senang. Tapi ketika meninggal dunia, banyak orang menangis. Ini menjadi pertanda mereka merasakan keberadaan kita selama hidup, itu yang menjadi inspirasi saya,” pungkas Imam.

Pemberdayaan Masyarakat Ala Muhammad Sahril

Beda dengan kisah Muhammad Sahril yang tinggal di Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan Madura, Jawa Timur, sebuah kampung di pinggir pesisir pantai.

Berawal dari penebangan dan pemburuan mangrove (bakau) yang marak di era tahun 2013, Muhammad Sahril pun tergerak.

“Waktu itu 17,5 hektar hutan mangrove di di desa kami rusak parah dan tertinggi jika dibandingkan dengan 5 desa sekitar,” tuturnya.

Sahril mengisahkan penanaman bakau yang mulai digalakkan tahun 2014, pelan tapi pasti akhirnya membuahkan hasil. Bahkan saat ini total area konservasi hutan bakau sudah mencapai 53 Hektar.

“Masyarakat tersadar, yang semula nebang mangrove, nggak ada lagi. Yang awalnya berburu nembak burung di hutan mangrove, sekarang nggak ada penembakan lagi,” ucap Sahril.

Setelah hutan bakau ditangani, pihaknya kemudian merambah ke transplantasi terumbu karang, sehingga bisa menjadi satu kesatuan ekosistem yang saling mendukung.

“Di desa kami ada dusun barat dan dusun timur, saya ibaratkan seperti paru-paru dan lambung. Sudah sama-sama berjalan di dua dusun ini,” katanya bangga.

Sahril menceritakan saat ini banyak kelompok mahasiswa yang datang ke hutan bakau di desanya, untuk melakukan penelitian. Peluang tersebut dimanfaatkan pula dengan memberdayakan rumah warga menjadi homestay dan menyajikan kuliner khas laut.

“Kalau mau mengadakan kegiatan di hutan bakau, harus pesan dulu. Soalnya sampai Minggu ketiga bulan November, sudah ada yang pesan. Kami rasakan pendampingan dan bantuan dari Pertamina, sangat bermanfaat menumbuhkan pemberdayaan di Desa Labuhan. Rumah tangga miskin sudah turun sampai 95 persen,” ungkap Sahril.

Dari “Nakal” Menjadi “Insyaf”

Tokoh lokal hero berikutnya, Labi Mopok memiliki cerita inspiratif, dari “nakal” menjadi “insyaf”.

Labi bersama masyarakat di kampungnya, Desa Leme-Leme Darat Kecamatan Buko Kabupaten Banggai Kepulauan Sulawesi Tengah sudah terbiasa melakukan perburuan satwa, untuk keperluan konsumsi maupun komersil. Hal itu juga diperparah adanya pembalakan liar.

Kondisi tersebut mulai membaik setelah Pertamina pada tahun 2021 meneken kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banggai Kepulauan, untuk mengembangkan kawasan Taman Keanekaragaman Hayati Kokolomboi di Desa Leme-Leme Darat.

“Memang desa kami sudah menjadi target, muncullah program Kokolomboi Lestari. Pertama kali warga mengira di Desa Leme-Leme Darat ada sumur minyak, soalnya ada pegawai Pertamina datang, lama kelamaan paham juga akhirnya,” kata Labi.

Labi menceritakan masyarakat mendapatkan pelatihan dan diajari budidaya madu. Potensi tersebut menurutnya sangat tepat, karena wilayah desa dekat dengan hutan.

Salah satunya dengan cara batang pohon palem dipotong, kemudian diberi rongga dan treatment khusus, supaya bisa menarik lebah untuk bersarang di dalamnya.

“Dari 1 batang palem, terdapat 5 sampai 6 media sarang lebah hutan,” terangnya.

Madu batu dan madu dahan kokolomboi kini semakin dikenal luas, sehingga berdampak pada penghasilan masyarakat. Bahkan tiap anggota mampu meraup penghasilan rata-rata Rp 9,8 Juta setiap bulan.

“Kami sekarang sudah tidak memburu satwa dan membalak hutan lagi, karena lebih fokus pada kegiatan budidaya madu. Hewan terjaga, hutannya aman dan manusianya sejahtera,” tandas Labi disambut tepuk tangan meriah dari peserta Media Gathering Pertamina.

Serba Organik, Tembus Berbagai Daerah

Kisah perjuangan Sri Widyorini di Desa Ngraho Kecamatan Kedung Tuban Kabupaten Blora, Jawa Tengah bisa menjadi penyegar, di tengah ketergantungan petani terhadap pupuk dan obat-obatan kimia.

Betapa tidak, wanita berusia 43 tahun tersebut aktif mengkampanyekan pertanian sehat ramah lingkungan berkelanjutan (PSRLB).

Sri bersama kelompoknya mencanangkan padi organik, tanpa menggunakan obat-obatan dan pupuk kimia. Ia beralasan dengan pupuk organik, diyakini akan memunculkan musuh-musuh alami bagi hama pengganggu tanaman.

“Awalnya kami juga petani konvensional. Tapi setelah memperoleh pelatihan dari Pertamina di tahun 2018, coba kami terapkan, dengan kesabaran dan ketelatenan, ternyata bisa,” papar Sri.

Beras organik yang dihasilkan tidak hanya memenuhi pangsa pasar lokal, tetapi juga merambah ke berbagai daerah.

“Beras organik kami laris manis, alhamdulilah sudah sampai Jakarta, Bandung dan sekitarnya,” ucapnya.

Selain beras organik, dikembangkan pula Kembang Telang yang banyak tumbuh di desanya. Kembang Telang diolah menjadi teh, minuman kebugaran dan puding.

“Kembang Telang banyak mengandung vitamin A, C dan E. Bisa menurunkan kadar kolesterol, anti oksidan tinggi sehingga baik untuk kesehatan. Termasuk untuk menurunkan anak stunting, biar mereka seneng kita buat puding,” timpal Sri.

Pertanian organik di Desa Ngraho belakangan mulai banyak ditiru oleh petani di desa lain.

“Ada 5 desa dengan jumlah anggota sekitar 80 an orang. Saya mengucapkan terima kasih sekali pendampingan dan bantuan Pertamina, telah membuat perekonomian warga terangkat,” pungkasnya.

Sementara itu, Fitri Erika, Senior Manajer Relations Regional 4 mengatakan meski keempat sosok lokal hero berbeda tempat dan permasalahan, namun sama-sama memiliki semangat menjadi penggerak.

“Mereka konsisten menjalankan program, punya kemauan dan inovasi, sehingga menebarkan inspiriasi untuk orang lain, sehingga kami memandang layak untuk mendapatkan dukungan,” ujar Fitri.

Fitri menambahkan Pertamina melalui program corporate social responsibility (CSR) akan terus menggelontorkan program-program yang bermanfaat secara langsung kepada masyarakat.

“Mulai dari ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lingkungan. Pemberdayaan masyarakat menjadi perhatian utama kami,” tegas Fitri. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan