
Rembang – Aliansi masyarakat sipil, pemuda, mahasiswa dan pekerja seni, Sabtu malam (20/06), menggelar Mimbar Simpang Kiri, di Alun-Alun Rembang.
Mereka mengangkat tema utama “Indonesia Hari Ini : Bangkrut, Cemas dan Gelap”, setelah pemerintah mengeluarkan sejumlah kebijakan yang dianggap menyedot anggaran negara sangat besar, namun efektivitasnya tidak jelas.
Justru sebaliknya menjadi ajang korupsi, yang ujung-ujungnya juga berdampak pada masyarakat.
Salah satu perwakilan pemuda, Fajar Mushoffa menyebut program makan bergizi gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menguras keuangan negara yang bersumber dari pajak rakyat.
Manfaat MBG dipertanyakan, karena banyak yang tidak tepat sasaran. Belum lagi rawan korupsi, dari tingkat pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) hingga penyajian menu MBG oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Apakah kondisi seperti ini akan diterus-terukan, uang negara bisa jebol. Sementara manfaatnya untuk menggerakkan ekonomi, menggerakkan UMKM, banyaknya menu MBG terbuang percuma, di mana-mana sudah menjadi sorotan masyarakat luas,” tuturnya.
Soal KDMP, Fajar berpendapat termasuk salah satu proyek yang tidak jelas dari awal.
Tidak ada papan proyek, berapa anggarannya, siapa pihak yang mengerjakan, siapa konsultan pengawasnya, dimulai dan selesai sampai kapan.
“Harusnya pemerintah memberikan contoh yang baik, terkait transparansi. Dugaan pelanggaran sudah terjadi sejak awal. Belum lagi nanti bisnisnya akan seperti apa, pangsa pasar bagaimana. Penggajian pegawainya, lagi-lagi menyedot uang negara, sudah melenceng dari semangat koperasi. Nilainya sangat besar, apakah hal itu akan sebanding untuk masyarakat,” timpal Fajar.
Maka di dalam mimbar bebas itu, mereka sepakat mendesak pemerintah menghentikan program MBG dan KDMP.
Fajar berharap pemerintah lebih fokus menstabilkan kondisi perekonomian, membuka lapangan pekerjaan, serta layanan terbaik di sektor pendidikan dan kesehatan.
“Yang jelas hari ini masyarakat sedang mengalami krisis kepercayaan kepada pemerintah. Bangkrut menyoroti ambruknya moralitas penegakan hukum dan keadilan ekonomi yang semakin menjauh dari rakyat kecil. Cemas ini sindiran narasi Indonesia Emas, yang justru melahirkan kecemasan massal, karena menyempitnya lapangan kerja, mahalnya biaya hidup dan represi terhadap suara kritis. Gelap menggambarkan ketidakpastian demokrasi kita kedepan,” imbuhnya.
Peserta mimbar bebas yang hadir tampak mengenakan pakaian hitam, sebagai simbol tanda berkabung, atas matinya nalar kritis kekuasaan.
Mereka menyuarakan aspirasi dan jeritan hati masyarakat, melalui diskusi, puisi, lapak buku, monolog dan teatrikal.
“Kami berupaya membangun solidaritas elemen masyarakat di Kabupaten Rembang. Diam adalah sebuah pengkhianatan dan hari ini, bersuara adalah sebuah keharusan. Kami menolak diam,” pungkasnya. (Musyafa Musa).

