Penasaran!!! Kenapa Sekolah Di Rembang Ini, Siswanya Banyak Yang Berasal Dari Jambi
Marhamah Anggia Risti, salah satu siswi dari Jambi yang bersekolah di SMK Hidayatul Muslimin Desa Kumbo, Kecamatan Sedan.
Marhamah Anggia Risti, salah satu siswi dari Jambi yang bersekolah di SMK Hidayatul Muslimin Desa Kumbo, Kecamatan Sedan.

Sedan – Meski SMK Hidayatul Muslimin berada di daerah pelosok, dekat perbukitan Desa Kumbo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, namun siapa sangka ternyata banyak siswa dari Jambi, Sumatera yang menimba ilmu di sekolah tersebut.

Marhamah Anggia Risti salah satunya. Siswi kelas X asal Jambi ini, pada awalnya ingin selepas tamat SD, langsung sekolah di Jawa. Namun orang tua belum membolehkan. Setelah lulus Madrasah Tsanawiyah (MTS), barulah mendapatkan izin melanjutkan sekolah ke Jawa.

“Memang sudah kemauan sendiri sejak dulu, “ ungkapnya, Senin (23 Januari 2023).

Ia mengetahui keberadaan sekolah di Desa Kumbo Kecamatan Sedan, karena kebetulan memiliki saudara di kampung tersebut.

Awal masuk sekolah, siswi berusia 15 tahun ini beradaptasi dengan lingkungan dan teman baru. Termasuk harus belajar bahasa Jawa, yang sekarang lambat laun bisa dipahami.

“Awalnya nggak tahu temen-temen ngomong apa. Dari logatnya saja beda. Saya belajar bahasa keseharian dulu, seperti aku, kamu. Kalau sekarang sedikit banyak sudah bisa mengerti, “ imbuh Marhamah.

Kepala SMK Hidayatul Muslimin Desa Kumbo, Muhammad Muadzom membenarkan setidaknya ada 15 siswa asal Provinsi Jambi di sekolahnya.

Ia mengisahkan dulu masyarakat Desa Kumbo dan Lemah Putih Kecamatan Sedan banyak yang melakukan transmigrasi ke daerah Jambi.

“Kata pihak yayasan seperti itu. Lalu yang transmigrasi di Jambi sukses, beranak pinak di sana. Tapi sebagian besar masih punya saudara di sini, “ terangnya.

Seiring waktu berjalan, para orang tua di Jambi ingin anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan sekolah umum, sambil memperdalam ilmu agama di pondok pesantren.

“Jadi sekolah formal nya di SMK Hidayatul Muslimin, mondoknya di belakang sekolah, Ponpes Matoliul Anwar, masih satu yayasan, “ kata Muadzom.

Untuk menyeimbangkan dua kepentingan itu, menurutnya tidak terlalu sulit. Yang terpenting jadwal di sekolah formal dengan pondok pesantren, tidak saling bertabrakan.

“Sini kegiatan belajar mengajar sebelum jam 2 siang sudah selesai, supaya anak-anak punya jeda waktu untuk istirahat. Setelah itu di sore sampai kalam hari, anak-anak fokus di pondok pesantren, biar sama-sama berjalan lancar, “ tuturnya.

Muadzom menimpali perpaduan antara siswa Kabupaten Rembang dan Jambi, justru akan memperkaya hubungan sosial, karena bisa saling bertukar kisah pengalaman, bahasa maupun budaya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *