
Rembang – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Rembang mengumumkan penyebab keracunan makan bergizi gratis (MBG), karena menu sudah mengandung bakteri.
Hal itu terungkap setelah hasil penelitian dari Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, diterima oleh DKK Rembang, Kamis (27 Agustus 2026).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, Ali Syofi’i menjelaskan berdasarkan hasil penelitian disebutkan bahwa menu MBG yang mengandung bakteri adalah nasi liwet dan telur dadar balado.
“Rinciannya, pada nasi liwet ditemukan bakteri Salmonella, Streptococcus Faecalis dan Bacillus Cereus, ada 3 jenis bakteri. Sedangkan untuk telur dadar balado ditemukan 2 jenis bakteri, yakni Streptococcus Faecalis dan Bacillus Cereus,” terangnya, Kamis sore.
Makanan mengandung bakteri, umumnya disebabkan kontaminasi lingkungan, cara pengolahan yang kurang bersih dan kesalahan dalam penyimpanan.
“Karena faktor kebersihan, higiene dan sanitasi. Masalah kebersihan sangat menentukan, jadi harus diperhatikan betul oleh semua SPPG,” ungkap Ali.
Ali menambahkan khusus untuk pemeriksaan kimia, pada semua sampel makanan, muntahan maupun feses (tinja), tidak ditemukan kandungan pestisida maupun klorin.
“Untuk yang pemeriksaan kimia, tidak ditemukan pencemaran kimia di semua sampel yang diuji,” imbuhnya.
Menyangkut sanksi kepada SPPG, Ali menegaskan bukan kewenangan instansinya, tetapi ranah dari Badan Gizi Nasional (BGN).
“Meski demikian, hasil dari laboratorium sebagai bahan untuk pembinaan lebih lanjut,” tandas Ali.
Sebagaimana diberitakan, pada hari Selasa (04/08) lalu, pihak SPPG Mondoteko 3 membagikan MBG.
Selasa malam, para penerima manfaat mulai merasakan perut mual, muntah dan diare.
Tidak hanya siswa, tetapi guru, staf TU hingga kepala sekolah mengalami gejala tersebut.
Hal itu terjadi di sejumlah sekolah, seperti SMP N 5 Rembang, SD dan SMP Annawawiyah Tasikagung, kemudian TK/Paud Tunas Bangsa.
Rabu pagi (05/08), ratusan siswa tidak masuk sekolah. Bahkan puluhan diantaranya menjalani perawatan di rumah sakit.
Selanjutnya, tim dari Dinas Kesehatan melakukan langkah-langkah penanganan, untuk mengungkap penyebab keracunan. (Musyafa Musa).

