
Blora – Ada yang mengusik rasa penasaran saya, kenapa warga Samin sering menggunakan pakaian serba hitam dan memakai ikat kepala.
Kostum kebesaran yang sering mereka pakai, saat berlangsung pertemuan atau ada acara-acara resmi di tingkat desa.
Nah..ketika berada di Kampung Samin Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, rasa penasaran itu akhirnya terjawab.
Tokoh warga Samin Klopoduwur, Blora, Lasiyo menceritakan pakaian hitam-hitam untuk mengingatkan bahwa umat manusia adalah makhluk yang masih kotor, sehingga jangan sampai menyombongkan diri.
“Ireng-ireng ngrumangsani nek kulo niki dereng resik, taksih kotor. Teng pundi mawon mbeto kamar mandi to mas. Kok muni resik niku pripun, “ ujarnya.
Sedangkan ikat kepala memiliki filosofi untuk mengikat tingkah laku yang tidak baik.
“Yen iket menika kangge ngiket tingkah laku sing boten apik, “ imbuh Lasiyo.
Di kalangan generasi warga Samin yang lebih muda, filosofi pakaian hitam-hitam sebagai pertanda manusia masih kotor, benar-benar tertanam di benak mereka.
Sudar, warga Samin Blora mengatakan semua berjalan secara turun temurun.
“Ngrumangsani taksih kotor, didudohake kalih baju hitam-hitam, “ tuturnya.
Saat ada rombongan tamu dari PT Semen Gresik datang ke Kampung Samin Klopoduwur-Blora, para tamu juga mengenakan pakaian serba hitam, untuk menghormati sekaligus ingin berbaur menjadi satu kesatuan.
Direktur Keuangan Dan Sumber Daya Manusia PT Semen Gresik, Muchamad Supriyadi berpendapat kearifan lokal warga Samin merupakan suatu budaya yang layak dipertahankan, karena menularkan semangat positif di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. (Musyafa Musa).

