Gencarkan Sejumlah Promo, Pantang Kibarkan Bendera Putih
Aktivitas pekerja Pollos Hotel & Gallery Rembang, Senin (26/07).
Aktivitas pekerja Pollos Hotel & Gallery Rembang, Senin (26/07).

Rembang – Di tengah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang diperpanjang, mengakibatkan tingkat hunian hotel berbintang di Kota Rembang, Jawa Tengah menurun drastis.

Hotel Pollos & Gallery misalnya. Hotel bintang 3 di pinggir jalur Pantura Semarang – Surabaya, Desa Kabongan Lor, Rembang menghadapi betapa besar efek PPKM terhadap kelangsungan usaha mereka.

General Manager Hotel Pollos & Gallery, Dedi Rosadi mengakui bulan Juli 2021 menjadi puncak kondisi tersepi, dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Tingkat hunian menurun tajam, 15 kamar per hari, dari sebelumnya rata-rata mencapai 70 kamar. Hal itu terjadi karena minimnya perjalanan tamu dari luar kota dan kebijakan kerja dari rumah di jajaran pemerintahan.

“Yang menginap di sini kebanyakan dari luar kota dan juga dari kalangan pemerintahan. Dengan adanya PPKM mengharuskan WFH (work from home), sangat berpengaruh terhadap tingkat hunian hotel, “ tuturnya, Senin (26 Juli 2021).

Sejumlah event yang akan berlangsung di hotel tersebut juga turut dibatalkan, setelah pemerintah memperpanjang PPKM. Mulai dari event pertemuan regular, halal bihalal, tunangan hingga pernikahan.

“Lumayan banyak yang dibatalkan. Nilainya kebetulan cukup besar dan berpengaruh terhadap kondisi finansial kami, “ ucap Dedi.

Dedi menambahkan untuk tetap bertahan menghadapi situasi sulit ini, pihaknya menurunkan tarif kamar sebesar 15 % dari kondisi normal, mengingat animo masyarakat yang tidak sebagus dulu.

Selain itu juga menggencarkan sejumlah promo paket makanan, minuman dan kolam renang.

“Cukup dengan Rp 250 Ribu, ada paket makanan, minuman dan free voucer kolam renang. Ada pula promo menginap selama 7 hari dengan harga khusus, “ imbuhnya.

Pria asli Jakarta ini menegaskan pantang mengibarkan bendera putih atau menyerah dengan keadaan sekarang. Menurutnya, sejauh ini hotel tidak akan ditutup, karena lebih dari 50 orang karyawan beserta keluarganya, menggantungkan hidup dari operasional hotel.

“Mereka mayoritas warga Kabupaten Rembang, “ pungkas Dedi.

Dedi sebatas berharap pemerintah mempunyai solusi terbaik. Semisal aktivitas masyarakat diperlonggar dengan standar protokol kesehatan ketat, ekonomi bisa berjalan, termasuk bisnis hotel akan terselamatkan. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *