Guru Dan Murid Siap Belajar Tatap Muka, Tapi Muncul 1 Kendala Yang Sulit Diatasi
Ketika siswa dan guru di SMP N 3 Pamotan melaksanakan pembelajaran online/daring.
Ketika siswa dan guru di SMP N 3 Pamotan melaksanakan pembelajaran online/daring.

Pamotan – Pihak SMP N 3 Pamotan yang terletak di Desa Bangunrejo Kecamatan Pamotan menegaskan siap melaksanakan pembelajaran tatap muka, asal diizinkan oleh instansi terkait.

Namun yang menjadi kendala adalah ketentuan siswa dilarang menggunakan angkutan umum saat berangkat maupun pulang sekolah selama pandemi Covid-19, sehingga cukup menyulitkan.

Kepala SMP N 3 Pamotan, Ngadiyono, Selasa siang (17 November 2020) menyatakan sebenarnya kalau dari sisi persiapan sekolah sangat siap, untuk menjalankan standar protokol kesehatan. Mulai tata letak bangku, penyemprotan disinfektan, tempat cuci tangan, maupun hand sanitizer.

Namun dari total 237 murid yang bersekolah di SMP N 3 Pamotan, banyak pula berasal dari desa-desa di puncak perbukitan wilayah Kecamatan Sedan, seperti Desa Candimulyo, Ngulahan dan Pacing, siswa biasa naik kendaraan pick up saat berangkat maupun pulang sekolah. Orang tua mereka belum bisa antar jemput, karena terbentur pekerjaan sehari-hari.

“Kalau dari sisi infrastruktur, kami siap mas. Tapi yang jadi masalah soal berangkat dan pulang sekolah, siswa nggak boleh pakai angkutan umum. Padahal siswa kami yang dari pelosok, jaraknya jauh dengan sekolah, mereka biasa naik kendaraan pick up. Orang tua sibuk kerja, nggak bisa antar jemput, “ tuturnya.

Ngadiyono menambahkan sebenarnya guru maupun siswa, sudah lama menghendaki dimulai pembelajaran tatap muka. Apalagi sistem pembelajaran daring/online yang sudah berlangsung sejak bulan Maret sampai dengan November ini dianggap kurang efektif.

Guru bimbingan dan konseling (BK) bahkan harus melakukan pantauan rutin. Ketika ada siswa tidak mengikuti pembelajaran online, mereka akan turun ke rumah siswa, guna mengetahui permasalahan yang terjadi.

“Kadang siswa hanya absen, namun di pembelajaran daring nggak aktif. Bisa jadi mereka jenuh, karena begitu lama mengikuti pembelajaran daring. Dua Minggu sekali, guru BK terjun ke desa-desa untuk menginventarisir permasalahan. Apa ada kendala dari anak, kita bantu carikan solusi, “ kata Ngadiyono.

Sebelumnya, 4 SMP N di Kabupaten Rembang sudah lebih dulu melaksanakan uji coba pembelajaran tatap muka, diantaranya SMP N I Pamotan, SMP N I Sale, SMP N I Kragan dan SMP N I Sumber. Sedangkan jenjang SMA yang menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, 1 sekolah di Kabupaten Rembang ditunjuk untuk pembelajaran tatap muka, yakni SMA N I Sumber.

Pemkab Rembang berencana memperluas pembelajaran tatap muka, terutama bagi sekolah di kecamatan yang berada di zona hijau penyebaran Covid-19. (Musyafa Musa).

News Reporter

1 thought on “Guru Dan Murid Siap Belajar Tatap Muka, Tapi Muncul 1 Kendala Yang Sulit Diatasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *