Kunci Cegah Stunting, Ada Masa Waktu Rawan Yang Harus Diwaspadai Orang Tua
Dokter spesialis anak RSUD dr. R. Soetrasno Rembang, Mayasari Dewi saat menyampaikan pandangannya seputar masalah stunting, beberapa waktu lalu.
Dokter spesialis anak RSUD dr. R. Soetrasno Rembang, Mayasari Dewi saat menyampaikan pandangannya seputar masalah stunting, beberapa waktu lalu. (foto diambil sebelum pandemi Covid-19).

Rembang – Tuntutan orang tua harus bekerja keras, sehingga berpengaruh terhadap pola asuh anak, dikhawatirkan dapat meningkatkan kasus stunting. Stunting adalah tinggi badan anak lebih pendek dibandingkan anak-anak seusianya. Anak stunting juga mengalami keterlambatan perkembangan otak.

Stunting disebabkan kurang asupan gizi, semenjak anak dalam kandungan, sampai usia 2 tahun. Selain karena nutrisi, stunting juga bisa dipicu kebersihan lingkungan yang buruk, sehingga anak sering terkena infeksi.

Daryono, Kepala Desa Waru, Rembang menjelaskan biasanya ketika orang tua harus bekerja, guna mencukupi kebutuhan keluarga, perhatian terhadap anak menjadi berkurang. Pihak desa masih kesulitan mencari solusi terbaik, guna mencegah stunting.

Di sisi lain, pada masa pandemi Covid-19 seperti sekarang, kecenderungan penghasilan masyarakat menurun, akibat lesunya perekonomian.

“Sebelumnya angka kemiskinan di Kabupaten Rembang ini kan mencapai 14 % lebih. Untuk kalangan ekonomi menengah ke bawah, solusi apa yang paling tepat, agar anaknya tidak mengalami stunting. Biar kami punya cara untuk mengedukasi masyarakat, lewat pak RT maupun perangkat desa, “ kata Daryono.

Sementara itu, Mayasari Dewi, dokter spesialis anak RSUD dr. R. Soetrasno Rembang berpendapat kunci utama mencegah kasus stunting adalah kepedulian dan harus optimis. Tidak hanya orang tua anak, tetapi perlu kekompakan pihak-pihak terkait, utamanya tenaga medis dan pemerintah.

“Stunting bukan punyanya warga miskin saja, tapi punya kita semua. Semua jajaran harus bersatu, mulai desa, Pemda, Dinas Kesehatan, Puskesmas, dokter-dokter nya. Kita semua saling terkait, “ kata dr. Maya, sapaan akrabnya.

Ia mengingatkan bahwa anak hanya menerima saja. Masa depan mereka, menjadi stunting atau tidak, tergantung pada orang-orang di sekelilingnya.

“Kami concern pada anaknya. Anak itu, bagaimana orang tua atau pengasuhnya. Semisal orang tua bekerja, anak dititipkan kepada mbah nya. Kalau peduli bagaimana gizinya, bagaimana ASI nya, bisa dikondisikan. Tergantung kepedulian kitanya, jangan dikorbankan anak-anak jadi stunting, “ tandasnya.

Guna mencegah kasus stunting, penuhi kecukupan nutrisi ibu selama hamil dan menyusui, kemudian memberikan ASI eksklusif, biasakan perilaku hidup bersih dan sehat. Cuci tangan pakai sabun, mencuci peralatan makan dengan sabun, supaya anak terhindar dari penyakit infeksi. Selain itu yang tidak kalah penting, datang rutin ke Posyandu, guna memantau perkembangan anak, setidaknya sampai usia 2 tahun.

Menurut data terbaru Dinas Kesehatan, kasus bayi lahir stunting di Kabupaten Rembang hanya 10,7 %, tapi meningkat menjadi 26 % saat menginjak balita. Paling banyak karena kurangnya asupan gizi pada saat pengasuhan orang tua. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *