KLB Korona, Kab. Rembang Kekurangan Rapid Test
dr. John Budi menunjukkan cairan pelarut dan rapid test Covid-19.
dr. John Budi menunjukkan cairan pelarut dan rapid test Covid-19.

Rembang – Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang kekurangan sarana rapid test, untuk mengetahui seseorang terpapar virus Covid-19.

dr. John Budi, dari Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang mengatakan semula pihaknya menerima rapid test dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah sebanyak 60 buah dan sudah habis.

“Waktu itu untuk rumah sakit 30 dan pemeriksaan di Puskesmas 30, untuk ngetes yang orang dalam pemantauan (ODP) maupun pasien dalam pengawasan (PDP). Termasuk waktu ada kasus positif pertama di Desa Megal Kecamatan Pamotan kala itu, “ ujarnya.

Saat ini, Dinas Kesehatan meminjam 60 buah rapid test dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. R. Soetrasno Rembang, karena dari sejumlah Puskesmas mulai banyak permintaan.

“Di Kecamatan Pancur pakai 7, kemudian Sluke 3, Sumberejo yang barusan meninggal dunia itu. Jadi kita harus benar-benar mengatur rapid test ini, biar cukup, “ bebernya.

dr. John Budi menambahkan pihaknya akan segera mengambil rapid test lagi ke tingkat provinsi, sebanyak 360 buah. Ia mengingatkan bagi masyarakat yang tidak merasakan gejala demam, batuk, pilek dan sesak nafas, tidak perlu melakukan rapid test.

“Kalau mau tes mandiri, ya barangnya agak susah memang. Mungkin di RS Bhina Bhakti Husada bisa, “ kata John.

Sedangkan bagi warga baru pulang dari daerah atau negara yang positif Covid-19, sejak awal harus sudah memiliki nomor kontak Puskesmas. Begitu mengalami gejala mencurigakan, segera menghubungi Puskesmas, agar pihak Puskesmas yang datang menjemput warga tersebut.

“Jadi bukan warga yang gejala tadi datang ke Puskesmas. Biar petugas Puskesmas datang dengan alat pelindung diri (APD) lengkap. Soalnya kalau yang gejala tadi ternyata positif, kemudian datang ke Puskesmas sendiri, kan bisa menulari semua kan, “ terangnya.

Karena menjadi screening awal, maka ketersediaan rapid test ini sangat diperlukan. Sistem pemakaiannya melalui pengambilan sample darah, kemudian dicampur dengan cairan pelarut. Setelah itu dites menggunakan rapid.

“Misalnya PDP dirapid test kok negatif, yang nangani ayem sik. Lha kalau positif, kan tinggal ditindaklanjuti dengan pengambilan lendir tenggorokan untuk sample swab, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *