Kisah Warga Sembuh Dari Korona, Ungkap Pengalaman Yang Sulit Ia Lupakan
Ilustrasi Tes Swab (suara.com/youtube). Reporter R2B memberikan dorongan semangat kepada warga yang sudah sembuh dari korona di Desa Megal, Kecamatan Pamotan. Ia tertawa, saat ditanya kapan menikah.
Ilustrasi Tes Swab (suara.com/youtube). Reporter R2B memberikan dorongan semangat kepada warga yang sudah sembuh dari korona di Desa Megal, Kecamatan Pamotan. Ia tertawa, saat ditanya kapan menikah.

Pamotan – Banyak kisah dari pengalaman warga yang sudah sembuh dari virus korona, selama masih menjalani perawatan. Salah satu cerita yang membuat saya merinding karena kasihan adalah ketika penderita menjalani tes swab atau pengambilan lendir di antara tenggorokan bagian atas dengan hidung paling belakang.

“Ingin pingsan rasanya, “ kalimat itu diungkapkan oleh Muyin, pria berusia 28 tahun, warga Desa Megal Kecamatan Pamotan, warga positif korona kali pertama di Kabupaten Rembang yang sekarang sudah SEMBUH.

Muyin menceritakan tim medis memasukkan semacam alat mirip cotton bud dengan ukuran lebih besar ke dalam hidungnya, kemudian diusap untuk mendapatkan lendir. Meski sebentar, namun ia sulit melupakan pengalaman tersebut.

“Yang pertama sakit sekali mas, rekan saya waktu di Semarang saja sampai nggak kuat, karena keluar darah dari hidung, “ ungkapnya.

Lebih-lebih tes swab tidak hanya dilakukan sekali. Muyin sendiri menjalani sampai 4 kali, masing-masing 2 kali di Rumah Sakit Wongsonegoro Semarang dan 2 kali di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. R. Soetrasno Rembang. Mengingat setelah sembuh pun, sesuai prosedur masih harus dites swab lagi, guna memastikan benar-benar terbebas dari Covid-19.

“Tapi karena sudah jadi aturannya seperti itu, ya saya jalani saja. Alhamdulilah lancar, “ kata Muyin.

Muyin mengaku saat ini masih mengisolasi diri di rumah. Ia merasa terbantu karena dorongan dari masyarakat dan pihak desa. Meski belum bisa bekerja, namun Muyin yang tinggal berdua dengan ibunya, masih dapat menyambung hidup sehari-hari. Fokusnya yang terpenting ia lekas sehat dan masyarakat mau menerima kembali.

“Semua berkat bantuan masyarakat, terutama warga Desa Megal. Kalau ada bantuan dari pemerintah ya syukur alhamdulilah, nggak juga nggak apa-apa. Yang penting saya sehat dan bisa hidup normal kembali, “ terang pria lajang ini tersenyum.

Sementara itu, Kepala Desa Megal Kecamatan Pamotan, Ikha Pudiyanti menyatakan pihaknya terus berupaya menumbuhkan semangat masyarakat, akibat dampak Covid-19 yang merambah ke banyak sektor.

“Desa sudah bergerak. Kami juga berharap Pemkab Rembang ada upaya bagi warga kami. Yang paling penting adalah menumbuhkan mental masyarakat. Termasuk juga masalah ekonomi kedepan, “ bebernya.

Khusus kepada Muyin, Ikha berpesan untuk selalu menjaga kesehatan. Apabila kelak bekerja lagi, lebih berhati-hati.

“Kamu kemarin sudah diberikan ujian, cobaan, sekarang sudah lolos. Suatu saat nanti ingin kerja kembali ya hati-hati, “ imbuhnya.

Ikha menambahkan perlakuan warga dari luar Desa Megal, berangsur-angsur mulai membaik. Tapi memang belum sepenuhnya normal.

“Biar waktu yang nanti akan menjawab semua itu, “ pungkasnya.

Bupati Rembang, Abdul Hafidz bersama sejumlah kepala desa di Kecamatan Pamotan, hari Minggu (12/04) sempat bersepeda, menyambangi Desa Megal. Selain membagikan masker, kepala daerah yang asli Kecamatan Pamotan itu juga menyemangati masyarakat. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *