Wajib Kenakan Pakaian Adat Jateng & Nasional, Guru Diminta Pengadaan Sendiri
Guru SMA N I Sumber mengenakan pakaian adat Jawa Tengah, saat mengajar, Kamis (14/11).
Guru SMA N I Sumber mengenakan pakaian adat Jawa Tengah, saat mengajar, Kamis (14/11).

Sumber – Guru SMA sederajat dan SLB di Kabupaten Rembang tiap hari Kamis, mengenakan kostum berbeda, dibandingkan hari-hari biasa. Hari Kamis pada Minggu pertama sampai minggu ketiga berupa pakaian adat Jawa Tengah, sedangkan hari Kamis minggu keempat memakai pakaian adat nasional. Lalu bagaimana dengan anggaran kostum baru tersebut ?

Kepala Sekolah SMA N I Sumber, Hedi Wibowo menjelaskan pada prinsipnya guru sangat mendukung kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, karena sebagai upaya melestarikan adat Jawa Tengah dan menghargai keberagaman Indonesia. Kalau pakaian adat Jawa Tengah, menurut Hedi secara umum tidak sulit. Tetapi untuk pakaian adat daerah-daerah lain se Indonesia, pihaknya memberikan kebebasan kepada guru untuk memilih.

“Rata-rata guru kami kalau Kamis minggu keempat mengenakan pakaian adat Bali, dan Tanah Toraja. Setelah SMA/SMK di bawah pengelolaan Pemerintah Provinsi, ya kebijakan Provinsi Jawa Tengah harus didukung. Pak Gubernur saja, kalau hari Kamisnya pas tanggal 17, itu pakai pakaian adat berbahan kain Korpri, “ kata Hedi.

Hedi Wibowo menambahkan pakaian adat tersebut, murni pengadaan pribadi dari masing-masing guru.

“Guru beli sendiri mas. Kalau seragam semua sama, nanti kan ada pertanyaan itu uang dari mana. Jadi kita bebaskan untuk pilih pakaian adat, “ imbuh warga Perumahan Sumber Mukti Indah Sumberejo, Rembang ini.

Soal kurang leluasa beraktivitas akibat bentuk pakaian adat dengan kain jarik, baginya tinggal menyesuaikan waktu saja, utamanya bagi guru olahraga.

“Di sini ada 50 an orang guru. Kalau guru olahraga, pagi hari datang pakai baju adat. Saat mengajar, ganti pakaian olahraga. Insyaallah nggak masalah, seminggu sekali saja kok, “ terangnya.

Seorang pegiat seni budaya di Kabupaten Rembang, Sutejo mengapresiasi kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tersebut. Ia berharap diikuti oleh guru-guru sekolah SD-SMP yang berada di bawah naungan Pemerintah Kabupaten Rembang.

“Mungkin bertahap gurunya dulu pakai pakaian adat Jawa Tengah. Setelah itu syukur murid-muridnya bisa pakai. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikan, “ ujarnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *